HEADLINE

Jangan Berpecah Belah, Teror Bom Tidak Bisa Menghancurkan Persaudaraan Kita INDONESIA

/

Redaksi / Senin, 14 Mei 2018 / 17:10 WIB

Sebarkan:

Media Nasional Obor Keadilan | Ledakan di Polrestabes Surabaya baru saja terjadi pada Senin (14/05/18) sekitar pukul 08.50 WIB. Ledakan ini seolah menyusul ledakan yang terjadi di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo tadi malam sekitar pukul 21.15 WIB. Aksi teror bom yang seolah susul menyusul ini membuat resah masyarakat khususnya warga Surabaya. Pasalnya, ledakan bom tidak hanya terjadi di Sidoarjo dan Polrestabes, akan tetapi ledakan justru berawal dari tiga gereja di Surabaya yaitu Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, Kecamatan Gubeng sekitar pukul 06.00-07.00 WIB. Ledakan kedua terjadi di Gereja Kristen Indonesia Jalan Raya Diponegoro, Surabaya sekitar pukul 07.15 WIB dan ledakan ketiga terjadi di Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno sekiatar pukul 07.53 WIB.
Pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya tersebut diduga merupakan satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Mereka meledakkan diri di tiga gereja berbedadi Surabaya dalam kisaran waktu yang hampir bersamaan. Dikutip dari Kompas.com (14/05/18), berdasarkan informasi yang didapat bahwa pelaku utama merupakan anggota JAD dan baru pulang dari Suriah bersama keluarganya. Akibat bom yang diledakkan di gereja di Surabaya tersebut setidaknya ada 10 orang korban meninggal dunia dan 41 orang luka-luka.
Belum hilang rasa takut masyrakat mendengar desas-desus bahwa masih akan terjadi bom susulan, pada Minggu malam (13/05/18) masyarakat kembali dikejutkan dengan ledakan yang terjadi di salah satu unit Rusunawa, Wonocolo, Sidoarjo sekitar pukul 21.15 WIB. Seperti yang dikutip dari m.cnnindonesia.com (14/05/18), dari ledakan tersebut diketahui terdapat tiga orang meninggal dunia yakni Anton Febriyanto sebagai kepala keluarga, Puspitasari yang merupakan istri dan RAR. Sementara tiga korban selamat adalah tiga anak Anton yaitu AR,FP, dan GHA.
Ledakan yang terjadi di tiga Gereja di Surabaya dan di Rusunawa Wonocolo, Sidoarjo diduga memiliki hubungan. Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Machfud Arifin mengatakan bahwa ledakan di gereja masih memiliki hubungan dengan ledakan yang terjadi di rumah susun. Sebelumnya, dikutip dari m.cnnindonesia.com (14/05/18), Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen M. Iqbal menduga masih ada keterkaitan antara ledakan di Sidoarjo dengan keluarga yang disebut pelaku pemboman gereja di Surabaya. Situasi mencekam seolah bertambah saat ledakan bom juga mengguncang Polrestabes Surabaya pada Senin (15/05/18). Diduga pelaku pemboman menggunakan kendaraan. Dari ledakan tersebut terdapat anggota polisi yang menjadi korban.
Ledakan bom yang seolah susul menyusul meledakkan beberapa tempat di Surabaya tidak hanya membuat masyarakat berada dalam ketakutan dan suasana mencekam. Pasalnya, akibta lain yang ditimbulkan dari teror bom tersebut adalah perasaan yang saling tuduh dan mencurigai satu sama lain di tengah masyarakat terutama yang berbeda agama. Bagaimana tidak, bom bunuh diri sengaja diledakkan di tempat peribadatan umat kristiani pada waktu mereka beribadah. Tidak hanya itu, jika memang benar seperti dugaan sementara bahwa pelaku pemboman di Rusunawa Wonocolo masih berhubungan dengan ledakan di Surabaya, hal ini tentu saja tidak bisa didiamkan. Keresahan masyarakat akan teror bom susulan seakan terjadi karena ledakan justru baru saja mengguncang Polrestabes. Masyarakat merasa mulai tidak aman, dan inilah sebenarnya yang merupakan tujuan dari aksi terorisme.
Menghadapi kejadian ini, masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan waspada serta tetap menjaga persatuan. Kuat dugaan adanya bom yang meledak di beberapa tempat di Surabaya sengaja dilakukan untuk memecah persaudaraan sesama manusia dan mengadu domba antar penganut agama. Sebagai masyarakat Indonesia yang hidup di bawah kebinneka tuggal ika-an, seharusnya masyarakat tidak terpancing untuk saling menuduh dan mencurigai sesama umat beragama. Masyarakat dihimbau untuk tidak terpancing akan teror bom yang seakan menyudutkan salah satu agama. Persatuan harus tetap terjalin dengan kuat agar tindak terorisme di Indonesia bisa dilawan bersama-sama. Tidak ada agama yang mengajarkan untuk menyakiti sesama manusia, apalagi dengan tindakan yang keji seperti teror bom. Masyaratak Indonesia adalah kesatuan dari berbagai perbedaan yang artinya jika salah satu merasa tersakiti maka yang lain juga tersakiti. Oleh sebab itu masyarakat diharapkan tidak saling mencurigai dan berpecah belah, kita semua berduka atas teror bom yang terjadi di Surabaya. Masyarakat harus tetap bersatu dan membantu Polri memberantas terorisme yang ada di Indonesia.
Semua penganut agama berduka atas ledakan bom yang terjadi di Surabaya. Umat Islam khususnya mengutuk pelaku pemboman yang telah menyebabkan saudara kita meregang nyawa. Ulama dan umat islam mengutuk orang-orang yang menjadi dalang dari aksi teror bom yang mengatasnamakan Islam dan bermaksud memecah belah persatuan dengan menyebarkan ujaran kebencian di antara manusia. Sebagai masyarakat yang menginginkan tindak terorisme segera berakhir, kita harus tetap bersatu dan hilangkan prasangka buruk terhadap satu golongan. Jangan biarkan tujuan terorisme menebar kebencian, ketakutan dan memecah belah tercapai. Dari latar belakang apapun kita, bersatu untuk memberantas teroris di Indonesia adalah tugas kita semua.(Ufid Faidzul Barokah)

Penanggung Jawab : Obor Panjaitan

Media Nasional Obor Keadilan menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : obor.leo@gmail.com dan atau via wa : 082114445256

KOMENTAR
TERKINI