|

DILEMA PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI

Oleh: Nur Rohimah (Kelompok 12 KKN-DR UINSU)

MEDIA NASIONAL OBOR KEADILAN| Senin (10/08-2020), Pada saat ini Indonesia tengah dilanda wabah virus yang mematikan yaitu virus Covid-19. Hampir seluruh wilayah yang ada di Indonesia terkena dampak dari virus ini. Covid-19 merupakan virus yang menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru, hingga kematian. Wabah ini pertama kali terjadi pada bulan Desember 2019 di provinsi Hubei, Cina. Sampai sekarang virus ini terus menyebar hingga ke seluruh dunia.

Penyebaran virus Covid-19 ini berdampak juga pada pendidikan di Indonesia karena semua pembelajaran di sekolah mulai dihentikan dan dilakukan secara daring atau online. Tidak ada lagi pembelajaran tatap muka bahkan semua aktivitas di sekolah dillakukan dari jarak jauh.

Hal ini diberlakukan karena untuk mencegah penyebaran Covid-19 yang semakin berkembang luas khususnya di wilayah indonesia. Bahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim juga berupaya membangun kerjasama dengan berbagai pihak yang fokus mengembangkan sistem pembelajaran daring.

Penerappan pembelajaran daring ini menuntut kesiapan bagi kedua belah pihak baik dari penyedia layanan pendidikan dan peserta didik itu sendiri.
Pembelajaran daring merupakan metode belajar yang menggunakan model interaktif berbasis internet dan Learning Manajemen System (LMS). Contohnya adalah menggunakan aplikasi Zoom, Google Meet, dan lainnya.

Pembelajaran daring di tengah pandemi ini memberikan berbagai dampak bagi kita yang menjalankannya. Salah satu dampak positifnya adalah guru dan siswa menjadi lebih mahir dalam menggunakan aplikasi online dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih santai karena dilaksanakan di rumah dan bisa dilakukan di mana saja. Selain itu,

Pembelajaran daring ini juga memberikan dampak negatif bagi yang menjalankannya. Contohnya sering terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi karena tidak dilakukan secara tatap muka, membutuhkan jaringan internet yang cukup baik serta memerlukan teknologi yang baik.

Adanya pembelajaran daring membuat dilema tersendiri bagi orang-orang yang menjalankannya terutama bagi para siswa, mahasiswa, maupun orang tua yang mendampingi anaknya dalam pembelajaran daring ini.

Setiap orang tua dituntut untuk bisa menggunakan berbagai teknologi karena anaknya tidak mungkin bisa menggunakan sendiri tanpa didampingi oleh orangtuanya terlebih lagi jika anak tersebut masih kelas 1 SD. Tak jarang banyak orang tua yang sering mengeluh akan pembelajaran daring ini. Sebagai contoh, Ibu Sri Anita Dewi yang sedang mengalami dilema karena adanya pembelajaran daring ini.

Ibu Sri Anita Dewi ini merupakan salah satu orang tua yang mendampingi anaknya melakukan aktivitas pembelajaran daring karena anaknya masih berumur 7 tahun.
“Lebih baik belajarnya itu di sekolah seperti biasa, karena saya juga kurang paham sama belajar online ini. malahan saya sering kewaalahan waktu mengajari anak saya. Belum lagi pekerjaan rumah, yang mau masak, mengurus ini, mengurus itu. Saya rasa itu jadi ribet.

Kalau belajar di sekolah seperti biasa kan lebih enak. Anak-anak pun jadi paham dan gak malas-malasan.”, kata Ibu Sri Anita Dewi yang merasa pembelajaran daring ini kurang efektif.
Selain itu, dilema pembelajaran daring ini juga dialami oleh siswa di setiap sekolah. Salah satunya Sabila Fajri yang merupakan salah satu siswa di MTs. Istiqlal Delitua yang saat ini duduk di kelas IX. “Saya merasa pusing dengan pembelajaran online karena tugas selalu menumpuk, banyak makan paket internet, kadang-kadang jaringan susah apalagi kalau sudah mati lampu.”, tutur Sabila Fajri yang turut merasakan kegundahan hatinya terhadap pembelajaran daring ini.

Salah satu mahasiswa tingkat 6 juga merasakan dilema yang membuatnya resah, Nurshela mengatakan bahwa pembelajaran daring ini tidak bisa berjalan dengan baik jika kita tidak mempunyai jaringan internet yang bagus, bahkan terkadang beliau sering mengalami kendala pada saat absen di jam mata kuliah tertentu dan membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berdoa yang terbaik saja.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, saya menyimpulkan bahwa pembelajaran daring di tengah pandemi ini membuat dilema tersendiri bagi setiap orang yang menjalankannya. Bagaimana pun pembelajaran daring ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 yang semakin meluas di Indonesia.

Tidak menutup kemungkinan kalau pembelajaran daring ini pastinya akan menimbulkan keresahan bagi para siswa, mahasiswa maupun orang tua yang ikut andil dalam membantu anaknya mengerjakan tugas onlinenya. Pembelajaran daring ini pastinya juga berdampak positif dan negatif bagi kita semua karena pembelajaran ini tidak dilakukan secara tatap muka. Maka dari itu, sebaiknya kita lebih pandai menyikapi pembelajaran daring yang sedang berlangsung di tengah pandemi ini agar setiap pembelajaran yang berjalan bisa berlangsung dengan baik dan lancar. (*)

Komentar

Berita Terkini