HEADLINE

Kemenkum HAM RI Bantah Ada penitipan Napiter di Lapas-Lapas di NTT, TPDI NTT Berang

/

Redaksi / Rabu, 30 Mei 2018 / 09:54 WIB

Sebarkan:
Foto : Napi Teroris saat di kawal Densus 88 menuju Lapas / Dok. Tribunnews.
                                                                   

LABUAN BAJO- NTT | Media Nasional Oborkeadilan.com -  Rabu, (30/05), TPDI Nusa Tenggara Timur- Petrus Salestinus, SH mengaku  sangat menyayangkan "bantahan" Kepala Kantor Wilayah Kemenkum HAM, Provinsi NTT, Yudi Kurniadi, terkait adanya penitipan Narapidana Teroris (Napiter) ke sejumlah Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang ada di wilayah hukum Kanwil Kemenkum HAM, Provinsi NTT. 


Menurutnya, bantahan Yudi Kurniadi itu, disampaikannya saat menjawab pertanyaan wartawan soal desakan sejumlah pihak yang meminta Kementerian Hukum dan HAM RI untuk menghentikan kebijakan titip Napiter di Lapas-Lapas di NTT, seusai Apel Harkitnas ke-110 Kanwil Kemenkum HAM, NTT, di Lapangan Apel Lapas Kelas II, Jln. Matahari Kelurahan Oesapa Selatan, Kupang, pada Senin,(21/05) lalu.

Yudi Kurniadi, Kakanwil Kemenkum HAM, Provinsi NTT itu, malah mempertanyakan informasi yang berkembang  dan menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada kebijakan di lingkungan Kemenkum HAM RI untuk memecah dan membagi Napi teroris ke tempat lain di luar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, apalagi ke luar wilayah Pulau Jawa, karena alasan kemanan yang menurut Yudi Kurniadi Nusakambangan dianggap jauh lebih baik karena menerapkan sistim kemanan "maksimum security", sehingga semua Narapidana Teroris ditempatkan di Nusakambangan".

Yudi Kurniadi justru mempertanyakan informasi yang beredar seputar Napiter titipan itu dan meminta supaya isu itu harus diklarifikasi.

Apa yang didalilkan oleh Yudi Kurniadi bahwa semua Narapidana teroris tempatnya hanya satu yaitu di Nusakambangan, karena keamanannya menggunakan sistim "maksimum security" memang benar dan itu idealnya. Tetapi pada saat yang bersamaan Yudi Kurniadi lupa bahwa pihaknya pernah menempatkan 156 (seratus lima puluh enam) Napiter di Lapas Mako Brimob, Kelapa Dua, Jakarta Timur, yang baru-baru ini membuat heboh situasi politik di republik ini, karena aksi penyanderaan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap beberapa Anggota Brimob yang sedang bertugas jaga mengawal para Napiter tersebut dan Yudi Kurniadi juga lupa bahwa ada 10 (sepuluh) Napiter sudah beberapa tahun dititip di Lapas-Lapas di NTT.

Selain daripada itu, fakta-fakta adanya Napiter titipan di NTT bersumber dari berbagai sumber tsepercaya seperti Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Pers NTT dan Kepala BIN Daerah NTT, Drs. Daeng Rosada, yang justru membeberkan dengan jelas, jumlah Lapas dan jumlah Napiter yang ditipkan yang menurut KABINDA NTT, Drs. Daeng Rosada, tidak kurang dari 10 Napiter dititip di 5 (lima) atau 6 (enam) Lapas di sejumlah Kabupaten di NTT seperti di Kabupaten Kupang, Atambua, Alor, Sumba Barat, Sumba Timur dan Kabupaten Ende, disebut sebagai kebagian titipan Napiter guna menjalani masa hukuman sesuai vonis Pengadilan. Ini adalah fakta bukan isu.

Sebagai pejabat Kakanwil Kemenkum HAM Provinsi NTT, pernyataan Yudi Kurniadi yang menyangkal fakta-fakta hukum dan fakta sosial tentang adanya Napiter yang dititip di Lapas-Lapas di NTT dan menegaskan bahwa informasi Napiter yang dititip di NTT hanya sebagai isu karenanya harus diklarifikasi, sungguh merupakan sikap yang bukan saja tidak etis, tetapi juga lancang, karena keluar dari "nilai dasar, kode etik dan kode perilaku" Aparatur Sipil Negara.

Mengapa, karena informasi titip Napiter di NTT yang sudah merupakan sebuah fakta masih diplintir sebagai isu oleh Yudi Kurniadi, sekaligus menuduh Gubernur NTT, Frans Lebu Raya menyebarkan isu atau informasi bohong dan memintanya supaya diklarifikasi.

Sikap Yudi Kurniadi yang membantah adanya penitipan Napiter di Lapas NTT dan menegaskan bahwa informasi tentang keberadaan Napiter titipan di Lapas-Lapas di NTT hanya sebagai sebuah isu dan isu itu harus diklarifikasi, sungguh merupakan sebuah sikap yang hendak menutup-nutupi sebuah fakta, sebuah kebijakan yang salah dan bersifat kontra produktif yang sedang disoal oleh publik. Sikap Yudi Kurniadi  bertentangan dengan "nilai dasar, kode etik dan kode perilaku" Aparatur Sipil Negara, karena Yudi Kurniadi sesungguhnya tahu bahwa informasi tentang adanya Napiter titipan di Lapas Lapas di NTT adalah sebuah fakta yang tak terbantahkan kebenarannya, karena bersumber dari penjelasan Gubernur NTT Drs. Frans Lebu Raya yang diperkuat oleh KABINDA NTT, Drs. Daeng Rosada dan Pemberitaan di media. (PS/LM)

Penanggung Jawab: Obor Panjaitan

Media Nasional Obor Keadilan menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : obor.leo@gmail.com dan atau via wa : 082114445256

KOMENTAR
TERKINI