HEADLINE

Sintong Hamonangan Panjaitan Salah Satu Petinggi Militer Era Orde Baru

/

Redaksi / Sabtu, 23 Maret 2019 / 18:01 WIB

Sebarkan:
Foto Sintong Hamonangan Panjaitan Letnan Jenderal TNI AD (1963-1991)

OBORKEADILAN.COM | Sintong Hamonangan Panjaitan salah satu petinggi militer era Orde Baru yang dianggap bertanggung jawab atas demonstrasi di Santa Cruz, Dili Timor Timur pada 12 November 1991. Peristiwa tragis yang menewaskan banyak orang ini mencoreng citra Indonesia di mata internasional.

Pasca kejadian itu, Dewan Keamanan Militer (DKM) mencopot Walikota Jenderal Sintong Panjaitan dari jabatannya sebagai Pangdam IX / Udayana. Keputusan ini merupakan pukulan berat bagi Sintong Panjaitan.

Proses pemeriksaan terkait masalah ini pun dirasa tidak cukup jelas. Kendati pun bukan yang membantah dan malah sebaliknya sulit dihindari, Sintong tak punya wewenang apa-apa untuk mengamankan namanya.

Di saat yang bersamaan, Sintong sebaliknya mendapatkan piagam pernghargaan dari Pemerintah Daerah Timor Timur yang ditandatangani oleh Gubernur Mario Viegas Carrascalao. Piagam itu diberikan kepada Sintong sebagai bentuk penghargaan dari pemerintah daerah dan masyarakat Timor Timur atas jasa-jasanya dalam membantu pembangunan daerah Timor Timur.

Sintong memang dikenal sebagai peinggi militer yang aktif dalam hubungan Timor Timur sekaligus memiliki hubungan yang sangat baik dengan tokoh-tokoh dari wilayah tersebut. Uskup Carlos Ximenes Belo yang dikenal sangat vokal dalam mengundang ABRI di Timor Timur, adalah salah satu orang yang berhubungan sangat baik dengan Sintong.

Uskup Belo sambil terbang ke Denpasar untuk menunggu serah terima jabatan Pangdam IX / Udayana yang menerima berhentinya Sintong dari jabatan itu. Pada acara itu Uskup Belo mengucapkan terima kasih dan selamat jalan pada Sintong.

■Kisah, Peristiwa Senjata Prabowo Subianto Dilucuti Sintong Panjaitan.

Dilansir Detik News: Pangkostrad Letjen Prabowo Subianto bergegas. Bersama 12 pengawalnya dia tiba di Istana Presiden, untuk menemui BJ Habibie yang baru saja menerima tampuk kekuasaan dari Soeharto.

"Pada waktu Prabowo masuk, para petugas agak tegang," tutur Letjen (Purn) Sintong Panjaitan dalam bukunya 'Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando' yang dia luncurkan di Balai Sudirman, Jl Sahardjo, Jakarta, Rabu (11\/3\/2009) malam.

Saat itu 22 Mei 1998, sehari setelah Soeharto mengundurkan diri. Habibie mengeluarkan keputusan mencopot Prabowo dari jabatannya. Hal itulah yang membuat Prabowo buru-buru ke Istana.

Menurut prosedur yang berlaku, para tamu presiden harus menunggu dahulu di lantai dasar, di sini mereka harus diperiksa dan disterilkan. Setelah tamu mendapat persetujuan bahwa ia akan diterima presiden baru diizinkan naik lift menuju lantai 4.

Namun Sintong, yang saat itu menjabat sebagai penasihat bidang pertahanan dan keamanan (Hankam) Presiden Habibie, mendapat laporan dari ajudan bahwa Prabowo langsung naik lift menuju lantai 4 tanpa ada seorang pun petugas yang mencegahnya.

"Selain itu sangatlah janggal, kalau dalam situasi semacam ini BJ Habibie sebagai presiden berhadapan dengan Prabowo yang bersenjata lengkap," jelas Sintong.

Memang saat itu Prabowo cukup dikenal banyak perwira pasukan pengamanan presiden, sehingga banyak yang sungkan terhadap Prabowo.

Melihat kondisi tersebut, Sintong pun memberi perintah agar Prabowo jangan masuk dahulu ke kantor presiden, sebelum diberi izin. Sintong teringat berita tetntang tewasnya Presiden Korea Selatan Park Chung-hee (menjabat tahun 1963-1979) karena ditembak dari jarak dekat oleh Jenderal Kim Jae-gyu dengan pistol Walther PPK, dalam satu pertemuan di Istana Kepresidenan Korsel.

Sintong lantas meminta agar seorang pengawal presiden mengambil senjata dari Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat dan agar Prabowo tidak direndahkan.

"Lihat ke sana kau kenal Prabowo. Kau ambil senjata Prabowo dengan cara yang sopan dan hormat," perintah Sintong kepada seorang anggota pasukan pengawal kepresidenan.

Selain itu, Sintong juga telah menyiagakan anggota berpakaian preman bersenjata lengkap di lantai 4. "Untuk menurunkan Prabowo dengan paksa ke lantai dasar, seandainya ia menolak menyerahkan senjatanya," jelas Sintong.

Petugas berpakaian preman yang ditugaskan mengambil senjata dari Prabowo itu pun lantas Prabowo dan terlibat pembicaraan singkat.

"Prabowo membuka kopelrim yang tertambat pistol, magasen, peluru, dan sebilah pisau rimba khas Kostrad," tutur Sintong.

Melihat kejadian itu, Sintong merasa bersyukur di dalam hati. "Aduh terimakasih Prabowo, begitulah seharusnya tentara bersikap. Menaati peraturan," jelas Sintong.

Akhirnya Prabowo bertemu Habibie empat mata. Hingga setelah beberapa jam kemudian Sintong mengingatkan Prabowo untuk mengakhiri pertemuan.

Soal pergantian jabatan Prabowo itu Sintong menulis hal itu sepenuhnya kewenangan Habibie dan dia tidak ikut terlibat dalam prosesnya.

Sintong juga menyebut, Habibie sempat khawatir terjadi sesatu akibat pergantian itu, namun Sintong meyakinkan bila semuanya akan berjalan normal.

Sintong Panjaitan lahir di Tarutung, 04/09/1940 Profesi Letnan Jenderal TNI AD (1963-1991)

Karier

Letnan Jenderal TNI AD (1963-1991)

Media Nasional Obor Keadilan menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : obor.leo@gmail.com dan atau via wa : 082230993121

KOMENTAR
TERKINI