Prashad: Indonesia Perlu Strategi Mandiri untuk Keluar dari Jerat Imperialisme Global
Pemikir internasional Vijay Prashad mengingatkan Indonesia harus berani mengambil langkah strategis untuk mendekolonisasi diri dari hegemoni ekonomi global dan menciptakan kebijakan yang sepenuhnya independen demi masa depan yang lebih adil.
Obor Keadilan - Sejarawan dan pemikir kritis global Vijay Prashad menekankan pentingnya Indonesia mengambil langkah berani dalam merumuskan strategi geopolitik yang sepenuhnya independen. Dalam analisisnya terhadap krisis multidimensional yang melanda dunia saat ini, Prashad berpandangan bahwa negara-negara di Global South, termasuk Indonesia, tidak lagi dapat bersikap pasif mengikuti arah kebijakan hegemoni barat. Ia mengutarakan kekhawatirannya bahwa tanpa tindakan nyata untuk mendekolonisasi struktur ekonomi dan politik yang masih terikat pada warisan imperialisme, Indonesia akan terus terjebak dalam siklus ketergantungan yang merugikan. Penulis buku "The Deeper Story" ini melihat momentum sekarang sebagai peluang emas bagi Indonesia untuk merumuskan visi geopolitik yang sejalan dengan kepentingan rakyat, bukan kepentingan kekuatan asing.
Proses dekolonisasi yang Prashad advokasikan bukan sekadar soal retorika antiimperialisme, melainkan transformasi fundamental dalam cara Indonesia mengelola sumber daya alam, mengontrol teknologi, dan mengambil keputusan strategis. Ia menekankan bahwa sistem ekonomi global yang saat ini berlaku dirancang untuk menguntungkan pusat kapitalisme dunia, sementara negara seperti Indonesia tetap menjadi produsen bahan baku dengan nilai tambah minimal. Prashad menunjukkan bahwa ketidakseimbangan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari desain struktural yang diwarisi dari era kolonialisme dan diperpanjang melalui institusi internasional modern. Untuk keluar dari perangkap ini, Indonesia memerlukan keputusan kebijakan yang berani mengutamakan kemandirian teknologi, diversifikasi ekonomi, dan penguatan kapasitas industri domestik sebagai fondasi kekuatan nasional.
Menurut perspektif Prashad, krisis global yang kini berkembang—mulai dari ketegangan geopolitik, krisis energi, hingga perubahan iklim—menciptakan ruang untuk negosiasi ulang hubungan internasional yang lebih adil. Indonesia, dengan posisi geografis strategis dan potensi ekonomi yang besar, memiliki daya tawar yang signifikan jika mampu menyatukan kepentingannya dengan negara-negara Global South lainnya. Prashad menyarankan agar Indonesia tidak lagi terikat pada blok-blok kekuatan barat, tetapi sebaliknya membangun koalisi solidaritas dengan negara-negara yang memiliki kepentingan serupa dalam menciptakan tatanan dunia yang lebih multipolar dan adil. Langkah ini memerlukan keberanian politik, terutama dalam menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik dari kekuatan hegemoni yang masih dominan di panggung internasional.
Dalam konteks Indonesia spesifik, Prashad melihat pemuda dan kelas pekerja sebagai kekuatan perubahan yang potensial. Ia mendorong agar generasi muda Indonesia mengembangkan kesadaran kritis tentang sejarah dan struktur kekuasaan global yang mengatur kehidupan mereka. Pendidikan yang membebaskan dan pembangunan kapasitas intelektual rakyat menjadi kunci dalam membangun gerakan sosial yang mampu mendesak pemerintah untuk mengambil posisi yang lebih tegas dan independen. Prashad juga menekankan peran penting media massa dan intelektual organik dalam membentuk wacana publik yang mendukung agenda dekolonisasi ini. Dengan cara ini, proses dekolonisasi tidak akan menjadi kebijakan dari atas semata, tetapi gerakan yang didorong oleh kesadaran kolektif rakyat yang menginginkan kemerdekaan sejati—bukan hanya dari penjajah lama, tetapi juga dari bentuk-bentuk penguasaan ekonomi dan ideologi kontemporer yang terus mengikat Indonesia pada sistem global yang tidak adil.
What's Your Reaction?