Ekonom Sebut Rupiah Masih Bertahan Lebih Baik Ketimbang Mata Uang Negara Tetangga di Tengah Ketegangan Geopolitik
Ekonom Purbaya menegaskan bahwa rupiah masih menunjukkan performa lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara sekitar, meskipun mengalami tekanan depresiasi akibat ketegangan geopolitik Iran-AS-Israel.
Obor Keadilan - Purbaya, seorang ekonom terkemuka, menyatakan bahwa meskipun nilai tukar rupiah mengalami pelemahan sejak eskalasi ketegangan antara Iran dan aliansi Amerika Serikat-Israel meningkat, posisi mata uang Indonesia tetap lebih resilient dibandingkan dengan kondisi yang dialami oleh negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam merespons kekhawatiran publik terhadap volatilitas pasar valuta asing yang semakin meningkat seiring dengan meningkatnya risiko geopolitik global. Purbaya menunjukkan data komparatif yang membuktikan bahwa depresiasi rupiah masih tergolong moderat jika dibandingkan dengan mata uang regional lainnya yang mengalami tekanan jauh lebih signifikan. Analisis menyeluruh dari para ahli ekonomi menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia yang relatif stabil menjadi penyangga utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.
Menurut Purbaya, kestabilan rupiah tidak terlepas dari kebijakan moneter yang konsisten dan prudent yang telah diterapkan oleh Bank Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Langkah-langkah strategis dalam mengelola cadangan devisa, serta koordinasi yang efektif antara otoritas moneter dan fiskal, telah membantu meredam tekanan depresiasi yang lebih tajam. Meskipun terdapat aliran modal keluar dari pasar keuangan emerging markets termasuk Indonesia sebagai respons terhadap ketidakpastian geopolitik, investor masih menunjukkan kepercayaan terhadap fundamentalnya. Purbaya menekankan bahwa perbandingan performa rupiah dengan mata uang negara tetangga seperti baht Thailand, peso Filipina, dan rupee India menunjukkan bahwa rupiah relatif lebih stabil dalam periode yang sama. Data historis membuktikan bahwa dalam setiap krisis global, rupiah selalu menunjukkan kemampuan recovery yang lebih cepat dibandingkan beberapa mata uang regional lainnya.
Para analis pasar juga menggarisbawahi bahwa posisi neraca pembayaran Indonesia yang tetap positif menjadi faktor penyeimbang terhadap tekanan depresiasi rupiah. Ekspor non-migas yang terus berkinerja baik, ditambah dengan remitansi dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri, memberikan inflow devisa yang cukup untuk mengimbangi capital outflow. Sektor pariwisata yang masih menarik wisatawan mancanegara, meskipun terdapat pembatasan tertentu, juga berkontribusi dalam mempertahankan cadangan devisa negara. Purbaya menyarankan agar pemerintah dan Bank Indonesia tetap waspada terhadap perkembangan situasi geopolitik global sambil terus memperkuat fondasi ekonomi domestik. Transparansi komunikasi dengan pasar juga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan menghindari ekspektasi inflasi yang tidak terkontrol. Stimulus fiskal yang tertarget, reformasi struktural untuk meningkatkan produktivitas, serta investasi dalam infrastruktur, akan membantu memperkuat posisi rupiah di jangka menengah dan panjang.
Dalam konteks yang lebih luas, Purbaya menekankan bahwa ketahanan rupiah mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia secara keseluruhan. Meskipun tantangan global terus berdatangan, dari ketegangan geopolitik hingga ketidakpastian suku bunga global, Indonesia memiliki ruang kebijakan yang cukup untuk mengadopsi respons yang proporsional dan efektif. Coordination antara berbagai stakeholder ekonomi—termasuk pemerintah, bank sentral, lembaga keuangan, dan pelaku usaha—akan menjadi kunci dalam menavigasi periode volatilitas ini. Purbaya mengoptimalkan bahwa dengan pengelolaan yang hati-hati dan strategi yang konsisten, rupiah akan tetap menjadi salah satu mata uang emerging markets yang paling stabil di kawasan. Namun demikian, warga negara dan investor perlu tetap waspada dan mengambil keputusan investasi dengan perhitungan yang matang, mengingat dinamika pasar global yang terus berubah dan penuh dengan ketidakpastian.
What's Your Reaction?