Ulama Ingatkan Umat Islam: Jangan Paksakan Haji-Umrah Jika Belum Mampu, Prioritaskan Kebutuhan Keluarga

Ulama terkemuka mengingatkan umat Islam Indonesia agar tidak memaksakan diri menunaikan haji dan umrah tanpa memiliki kemampuan finansial yang cukup, dan tetap memprioritaskan kebutuhan keluarga sebagai kewajiban utama dalam agama Islam.

Apr 19, 2026 - 17:39
Apr 19, 2026 - 17:39
 0
Ulama Ingatkan Umat Islam: Jangan Paksakan Haji-Umrah Jika Belum Mampu, Prioritaskan Kebutuhan Keluarga

Obor Keadilan - Seorang ulama terkemuka kembali mengingatkan pentingnya kesadaran finansial dalam menunaikan ibadah haji dan umrah. Dalam kajiannya, beliau menekankan bahwa memaksakan diri untuk melaksanakan kedua ibadah ini tanpa memiliki kemampuan ekonomi yang cukup dapat menimbulkan konsekuensi negatif bagi kehidupan keluarga. Pesan ini menjadi relevan mengingat tingginya antusiasme masyarakat Muslim Indonesia untuk menunaikan ibadah suci tersebut, namun tidak selalu diimbangi dengan kesiapan finansial yang matang. Ulama tersebut menekankan bahwa dalam perspektif Islam, terdapat hirarki kewajibannya tersendiri, dan tidak semua ibadah memiliki tingkat urgensi yang sama dalam kondisi keterbatasan ekonomi.

Dalam penjelasannya, ulama menegaskan bahwa haji merupakan salah satu dari lima pilar Islam yang memang wajib dilaksanakan. Namun demikian, kewajiban tersebut memiliki syarat-syarat tertentu, termasuk kemampuan finansial yang memadai. Islam mengajarkan bahwa seseorang hanya diwajibkan menunaikan haji apabila telah mampu secara ekonomi, baik dari segi biaya perjalanan maupun kebutuhan hidup keluarganya selama berangkat. Sementara itu, umrah adalah ibadah yang bersifat sunnah, bukan wajib, sehingga posisinya berada di bawah kewajiban memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Ulama tersebut mengutip berbagai dalil dari Al-Quran dan Hadis yang menunjukkan pentingnya menjaga kesejahteraan dan kebutuhan keluarga sebagai prioritas utama dalam ekonomi keluarga Muslim.

Lebih lanjut, beliau menekankan bahwa niat yang murni untuk beribadah harus disertai dengan akal sehat dan pertimbangan matang tentang kondisi finansial keluarga. Memaksakan diri untuk menunaikan umrah berulang kali atau menggandeng keluarga dalam haji tanpa persiapan yang matang dapat mengakibatkan keluarga berada dalam kondisi defisit finansial yang merugikan. Beliau mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang realistis dan mempertimbangkan situasi nyata kehidupan manusia. Jika seorang kepala keluarga memiliki hutang yang belum lunas atau anggaran keluarga yang pas-pasan, maka prioritas harusnya adalah menyelesaikan kewajiban finansial tersebut daripada terburu-buru menunaikan umrah. Dalam hal ini, ulama memberikan ruang untuk merencanakan haji dan umrah dengan matang, sehingga ketika saatnya tiba, seseorang benar-benar siap baik secara material maupun spiritual.

Ulama juga menekankan bahwa kesabaran dan perencanaan jangka panjang merupakan bagian dari kebijaksanaan beragama. Banyak masyarakat Muslim yang telah berhasil menunaikan haji dan umrah dengan terencana, yaitu melalui menabung secara konsisten dan membuat perencanaan finansial yang matang selama bertahun-tahun. Pendekatan ini tidak hanya memastikan ibadah dapat dilaksanakan dengan khusyuk, tetapi juga menjaga martabat keluarga agar tidak terpuruk dalam kesulitan finansial. Beliau mengajak umat Muslim Indonesia untuk mengubah paradigma bahwa ibadah harus didahulukan dengan cara apapun, menjadi paradigma baru yang seimbang: menunaikan ibadah sambil tetap menjaga kesejahteraan keluarga. Dengan demikian, perjalanan ibadah haji atau umrah akan menjadi moment yang benar-benar berkat, bukan sebaliknya menjadi sumber beban bagi keluarga yang ditinggalkan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow