Terapi Totok Sirih pada Balita Memicu Kontroversi: Antara Kepercayaan Tradisional dan Standar Kesehatan Anak

Video balita menangis saat terapi totok sirih viral dan menciptakan kontroversi besar. Praktik tradisional ini dikritik warganet dan diragukan oleh ahli medis karena belum terbukti aman dan efektif secara ilmiah untuk kesehatan anak.

Apr 24, 2026 - 08:47
Apr 24, 2026 - 08:47
 0
Terapi Totok Sirih pada Balita Memicu Kontroversi: Antara Kepercayaan Tradisional dan Standar Kesehatan Anak

Obor Keadilan - Sebuah video yang menampilkan seorang balita menangis histeris saat menjalani prosedur terapi totok sirih telah menyebar luas di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan hangat di kalangan masyarakat Indonesia. Video tersebut diproduksi di Palembang dan menunjukkan seorang praktisi dewasa melakukan tekanan kuat pada tubuh anak yang masih berusia balita dengan menggunakan metode tradisional tersebut. Tangisan keras dan penderitaan yang terlihat jelas dari ekspresi wajah balita dalam rekaman video tersebut telah membangkitkan kekhawatiran serius di kalangan orang tua muda dan tenaga kesehatan profesional mengenai keamanan dan kelayakan prosedur semacam itu terhadap anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan kritis.

Respons dari komunitas netizen Indonesia terhadap video tersebut sangat masif dan cenderung mengutuk praktik yang ditampilkan. Ribuan komentar bernada protes berdatangan dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua, pendidik, hingga profesional kesehatan yang meragukan efektivitas dan keamanan metode totok sirih jika diterapkan pada tubuh balita yang masih sangat rentan. Sebagian besar kritikus berpendapat bahwa membiarkan anak mengalami rasa sakit yang ekstrem tanpa justifikasi medis yang jelas merupakan bentuk perlakuan yang tidak etis dan berpotensi merugikan kesejahteraan psikologis maupun fisik anak. Gelombang ketidaksetujuan ini juga menyentuh dimensi perlindungan anak, dengan banyak yang mempertanyakan apakah prosedur tersebut sudah mendapat izin dan sertifikasi dari otoritas kesehatan yang berwenang.

Menanggapi polemik yang berkembang, para ahli kesehatan dan pakar pediatri memberikan penilaian yang tegas bahwa terapi totok sirih, meskipun merupakan warisan budaya tradisional yang telah dikenal dalam masyarakat Indonesia selama berabad-abad, belum memiliki bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung keamanan dan efikasitasnya, terutama ketika diterapkan pada kelompok usia balita yang sangat vulnerable. Penelitian medis modern belum menunjukkan adanya mekanisme biologis yang jelas mengenai bagaimana prosedur tekanan kuat pada kulit dapat menyembuhkan penyakit atau meringankan gejala klinis pada anak-anak. Para dokter spesialis kesehatan anak menekankan bahwa kesehatan balita harus ditangani dengan pendekatan berbasis bukti ilmiah yang telah teruji klinis dan tidak membahayakan, sesuai dengan standar internasional perawatan anak yang berlaku di seluruh dunia.

Situasi ini mencerminkan dilema berkelanjutan dalam masyarakat Indonesia antara menghormati kearifan lokal dan tradisi budaya di satu sisi, dengan kewajiban untuk melindungi kesejahteraan dan hak-hak anak berdasarkan standar kesehatan modern dan etika perlindungan anak di sisi lain. Pemerintah, khususnya melalui Kementerian Kesehatan dan Lembaga Perlindungan Anak, diharapkan untuk segera mengambil langkah tegas dalam memberikan edukasi kepada masyarakat tentang praktik kesehatan anak yang aman dan tersertifikasi. Diperlukan dialog konstruktif antara pemegang tradisi, praktisi kesehatan, dan orang tua untuk menemukan keseimbangan yang bijaksana, di mana nilai-nilai budaya tetap dihargai namun tidak mengorbankan keselamatan dan tumbuh kembang optimal bagi generasi muda Indonesia.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow