Pertamina Naikkan Harga Pertamax hingga Rp 17.000 per Liter, Dinilai Memberatkan Konsumen

Pertamina melakukan penyesuaian harga Pertamax hingga mencapai Rp 17.000 per liter di beberapa daerah berdasarkan evaluasi pasar minyak global, namun kebijakan ini menuai kekhawatiran dari kalangan konsumen dan pelaku usaha transportasi.

Jun 10, 2026 - 13:40
Jun 10, 2026 - 13:40
 0
Pertamina Naikkan Harga Pertamax hingga Rp 17.000 per Liter, Dinilai Memberatkan Konsumen

Obor Keadilan - Pertamina kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar premium Pertamax yang mencapai angka Rp 17.000 per liter di sejumlah daerah di Indonesia. Kebijakan penyesuaian tarif ini dilakukan berdasarkan evaluasi berkala yang mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah di pasar global. Menurut keterangan Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, langkah ini merupakan bagian dari mekanisme pricing yang disesuaikan dengan kondisi pasar internasional untuk memastikan keberlanjutan operasional perusahaan.

Naiknya harga Pertamax ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan masyarakat konsumen, terutama bagi mereka yang mengandalkan bahan bakar premium untuk kendaraan pribadi maupun usaha komersial. Pelaku usaha transportasi, khususnya taxi online dan ojek motor, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kebijakan ini karena akan berdampak langsung pada biaya operasional mereka. Setiap kenaikan harga bahan bakar secara otomatis akan meningkatkan tarif jasa mereka, yang pada akhirnya beban ini akan dialihkan kepada konsumen akhir yang sudah berjuang menghadapi berbagai tekanan ekonomi.

Pertamina menjelaskan bahwa mekanisme penyesuaian harga ini dilakukan secara transparan dan mengikuti standar industri global. Perusahaan menegaskan bahwa keputusan kenaikan harga tidak diambil secara sembarangan, melainkan melalui analisis mendalam terhadap kondisi pasar minyak dunia yang terus berfluktuasi. Dumatubun menekankan bahwa Pertamina berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan konsumen dan viabilitas finansial perusahaan. Namun, penjelasan ini belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran publik yang merasa terus-menerus dihadapkan pada beban biaya hidup yang semakin meningkat.

Sebagai perusahaan energi nasional yang berperan strategis dalam perekonomian Indonesia, Pertamina diharapkan dapat lebih mempertimbangkan dampak sosial dari setiap kebijakan penyesuaian harga yang diambil. Para kritikus kebijakan ini menyarankan agar pemerintah dan Pertamina melakukan dialog lebih intensif dengan berbagai stakeholder, termasuk organisasi konsumen dan pelaku usaha, sebelum mengimplementasikan kenaikan harga bahan bakar. Diperlukan mekanisme subsidi atau kompensasi yang lebih efektif untuk melindungi daya beli masyarakat bawah dan menengah, sehingga kebijakan harga bahan bakar tidak menjadi beban tambahan yang memberatkan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow