Niat Mulia atau Niat Terselubung? Buya Yahya Peringatkan Jangan Biarkan Silaturahmi Berubah Menjadi Dosa

Buya Yahya mengingatkan umat Islam bahwa silaturahmi dapat berubah menjadi dosa jika dilakukan dengan niat yang tidak benar. Beliau menekankan pentingnya niat yang ikhlas dalam setiap amalan keagamaan.

Mar 25, 2026 - 10:28
Mar 25, 2026 - 10:28
 0
Niat Mulia atau Niat Terselubung? Buya Yahya Peringatkan Jangan Biarkan Silaturahmi Berubah Menjadi Dosa

Obor Keadilan - Dalam sebuah kajian keislaman yang mendalam, ulama terkemuka Buya Yahya menekankan pentingnya memahami aspek niat dalam setiap amalan, termasuk dalam praktik silaturahmi yang merupakan anjuran agama Islam. Beliau menjelaskan bahwa silaturahmi, meskipun pada dasarnya merupakan amalan mulia yang dianjurkan dalam ajaran Islam, dapat berubah menjadi dosa apabila niat pelakunya tidak lurus dan tercampur dengan kepentingan duniawi yang keliru. Peringatan ini menjadi penting mengingat banyaknya umat Islam yang melakukan silaturahmi tanpa menyadari bahwa tujuan sebenarnya telah menyimpang jauh dari nilai-nilai spiritual yang sesungguhnya. Buya Yahya, melalui pemahaman yang komprehensif terhadap ajaran Islam, memberikan gambaran jelas mengenai bagaimana perbuatan yang seharusnya bernilai positif dapat berakhir dengan konsekuensi yang berbeda sama sekali.

Menurut penjelasan Buya Yahya yang sangat terperinci, niat memegang peranan yang sangat krusial dalam menentukan nilai ibadah seseorang. Beliau menegaskan bahwa silaturahmi yang dilakukan semata-mata untuk menunjukkan gaya hidup, mencari pujian dari masyarakat, atau bahkan dengan tujuan untuk merayu orang lain demi kepentingan pribadi akan mengubah esensi mulia dari silaturahmi tersebut. Ketika seseorang mengunjungi saudara, keluarga, atau teman dengan motivasi yang tersembunyi seperti ingin diakui kebesarannya, menonjolkan kemewahan, atau sekadar untuk kepentingan transaksional semata, maka apa yang seharusnya menjadi sarana untuk mempererat hubungan dan meningkatkan kebersamaan akan menjadi sesuatu yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Buya Yahya mengutip prinsip-prinsip dasar dalam fiqih Islam yang menyatakan bahwa setiap amalan dinilai berdasarkan niatnya, bukan sekadar dari aspek lahiriah atau formalitas tindakannya saja.

Ulama berpengalaman ini juga menjelaskan beberapa contoh konkret tentang bagaimana niat yang salah dapat mengotori ketulusan silaturahmi. Apabila silaturahmi dilakukan dengan harapan mendapatkan keuntungan finansial, kedudukan sosial, atau bahkan melakukan pengawasan untuk tujuan memata-matai kehidupan pribadi orang lain, maka yang terjadi adalah perbuatan tersebut bukan lagi ibadah melainkan transaksi negatif yang dapat membawa dosa. Sebaliknya, Buya Yahya menekankan bahwa silaturahmi yang sejati adalah ketika seseorang mengunjungi orang lain semata-mata untuk menjaga hubungan baik, memberikan dukungan moral, menciptakan kebersamaan, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di antara sesama kaum Muslimin. Silaturahmi yang dilandasi oleh niat murni untuk berbuat baik, saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan mempererat tali persaudaraan dalam agama akan memberikan nilai ibadah yang tinggi di hadapan Allah Swt.

Berdasarkan penjelasan komprehensif dari Buya Yahya ini, penting bagi setiap umat Islam untuk melakukan introspeksi mendalam sebelum melakukan silaturahmi. Setiap individu perlu memeriksa kembali motivasi sejati di balik setiap kunjungan yang akan dilakukan, memastikan bahwa niat yang tertanam dalam hati adalah ikhlas semata-mata untuk ibadah dan mempererat persaudaraan. Buya Yahya mengajak umat untuk senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diberikan kemudahan dalam meniatkan setiap perbuatan dengan niat yang benar dan tulus. Dengan demikian, silaturahmi tidak hanya akan menjadi amalan yang membawa berkah dan kebaikan, tetapi juga menjadi sarana yang efektif untuk membangun masyarakat Islam yang lebih solid, saling mendukung, dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam yang sesungguhnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow