Muhammadiyah Desak Tokoh Agama Jaga Ukhuwah Meski Perbedaan Penetapan Lebaran 2026

Ketua Umum Muhammadiyah Haedar Nashir mengimbau para tokoh agama untuk menjaga persaudaraan dan tidak memperkeruh perbedaan penetapan Lebaran 1447 Hijriah, dengan menghindari vonis keras terhadap kelompok yang berbeda pendapat.

Mar 20, 2026 - 11:33
Mar 20, 2026 - 11:33
 0
Muhammadiyah Desak Tokoh Agama Jaga Ukhuwah Meski Perbedaan Penetapan Lebaran 2026

Obor Keadilan - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, telah mengeluarkan himbauan tegas kepada para tokoh agama dan pemimpin masyarakat untuk menunjukkan kesadaran dan kebijaksanaan dalam merespons perbedaan penetapan hari raya Idulfitri tahun 1447 Hijriah yang akan datang. Dalam pernyataannya yang tersebar luas, Haedar Nashir menekankan pentingnya menjaga suasana kondusif dan tidak memperkeruh keadaan sosial kemasyarakatan meskipun terdapat perbedaan interpretasi dalam penentuan awal bulan Syawal. Himbauan ini disampaikan dengan nada yang santun namun penuh dengan tanggung jawab moral, mengingat perbedaan penetapan Lebaran di tengah masyarakat Indonesia yang plural telah berulang kali memicu diskusi dan bahkan ketegangan di masa lampau.

Secara spesifik, pemimpin organisasi Islam terbesar di Indonesia ini menyerukan kepada semua elemen masyarakat, khususnya para ulama dan tokoh agama, untuk menahan diri dari kecenderungan memberikan vonis yang keras terhadap pihak lain yang memiliki pendapat berbeda. Haedar Nashir memandang bahwa perbedaan dalam metodologi penentuan awal Syawal merupakan sesuatu yang wajar dan telah terjadi sejak zaman dahulu dalam tradisi Islam. Dengan demikian, beliau mengajak setiap pihak untuk menerima perbedaan tersebut sebagai bagian dari kekayaan intelektual keislaman, bukan sebagai sesuatu yang perlu diperdebatkan secara emosional dan personal. Pendekatan inklusif ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah dalam mempertahankan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah, yakni persaudaraan yang kuat di antara sesama Muslim tanpa memandang perbedaan persepsi keagamaan.

Latar belakang himbauan ini jelas terlihat dari sejarah panjang ketidakseragaman penetapan Lebaran di Indonesia. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia kerap mengalami situasi di mana beberapa organisasi Islam menetapkan Idulfitri pada tanggal yang berbeda, bahkan hingga dua hari selisih. Fenomena ini tidak hanya menciptakan kebingungan administratif dan sosial, tetapi juga pernah memicu perdebatan panas yang cenderung menghadirkan stereotip negatif terhadap kelompok yang memiliki pandangan berbeda. Melihat potensi hal serupa terulang pada Lebaran 2026, Haedar Nashir proaktif memberikan peringatan dini agar semua pihak mempersiapkan diri dengan sikap yang arif dan penuh toleransi. Pesan ini juga implisit mengajak Muhammadiyah sendiri dan organisasi-organisasi Islam lainnya untuk saling menghormati dalam keberagaman metodologi penentuan awal bulan puasa dan Syawal.

Penekanan pada nilai ukhuwah ini didasarkan pada pemahaman mendalam terhadap ajaran Islam yang mengutamakan persatuan dan kesatuan ummat. Haedar Nashir memahami bahwa dalam konteks kehidupan bermasyarakat di Indonesia, perbedaan kecil dalam hal teknis keagamaan seharusnya tidak menggangu esensi dari kebersamaan beribadah dan merayakan momen mulia. Dengan mengutuk praktik saling vonis dan saling menyalahkan, beliau mengajak semua lapisan masyarakat untuk menjadikan Lebaran sebagai momentum penyembuhan hubungan sosial, bukan sebaliknya. Seruan Ketua Umum Muhammadiyah ini diharapkan menjadi rambu-rambu moral yang menjaga keharmonisan nasional menjelang perayaan Lebaran 2026, sekaligus menjadi contoh bagi organisasi-organisasi lain dalam menghadapi keragaman pendapat di tengah masyarakat yang semakin kompleks.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow