Megawati Dorong Penguatan Asia-Afrika Melawan Hegemoni Neokolonial di Era Modern

Megawati menekankan relevansi Konferensi Asia-Afrika Jilid II sebagai respons terhadap neokolonialisme dan imperialisme modern yang terus mengancam kemandirian negara-negara berkembang di Asia dan Afrika dengan cara-cara yang halus dan tersamar.

Apr 18, 2026 - 19:29
Apr 18, 2026 - 19:29
 0
Megawati Dorong Penguatan Asia-Afrika Melawan Hegemoni Neokolonial di Era Modern

Obor Keadilan - Dalam menghadapi kompleksitas tantangan geopolitik global yang terus berkembang, Megawati Soekarnoputri kembali mengangkat relevansi Konferensi Asia-Afrika (KAA) sebagai instrumen strategis untuk membangun solidaritas negara-negara berkembang. Mantan Presiden Indonesia ini menekankan bahwa meskipun KAA pertama telah diselenggarakan lebih dari tujuh dekade lalu, semangat dan substansinya tetap aktual untuk menjawab persoalan-persoalan kontemporer yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di kawasan Asia dan Afrika. Megawati secara eksplisit menyatakan bahwa ancaman neokolonialisme dan imperialisme tidak menghilang begitu saja, melainkan terus beroperasi dengan cara-cara dan corak yang berbeda di era digital dan globalisasi ekonomi saat ini. Oleh karena itu, kehadiran KAA Jilid II bukan semata-mata nostalgia historis, tetapi merupakan kebutuhan strategis untuk membendung praktik-praktik dominasi ekonomi, politk, dan budaya yang dilakukan oleh negara-negara maju terhadap negara-negara dunia ketiga.

Menurut perspektif yang dikemukakan oleh Megawati, neokolonialisme modern mengambil bentuk yang lebih halus dan tersamar dibandingkan dengan kolonialisasi tradisional abad ke-19 dan ke-20. Negara-negara kuat tidak lagi menguasai melalui pendudukan militer langsung, melainkan melalui mekanisme ketergantungan ekonomi, hutang luar negeri yang membengkak, kontrol atas sumber daya alam, dan dominasi dalam institusi-institusi keuangan internasional. Praktik-praktik seperti pengenaan tarif perdagangan yang diskriminatif, pemaksaan kebijakan struktural adjustment, dan kontrol atas teknologi strategis menjadi cara-cara baru penjajahan yang tidak kurang berbahayanya. Imperialisme budaya juga menjadi salah satu dimensi yang perlu diwaspadai, melalui penyebaran nilai-nilai dan gaya hidup Western yang secara gradual mengikis identitas dan kedaulatan budaya bangsa-bangsa Asia dan Afrika. Dalam konteks ini, Megawati berpandangan bahwa Asia dan Afrika membutuhkan platform bersama untuk mengidentifikasi dan mengkonter strategi hegemoni yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan global.

Konferensi Asia-Afrika Jilid II, menurut pemikiran Megawati, seharusnya menjadi ruang deliberasi dan koordinasi untuk merumuskan agenda bersama yang menguntungkan masyarakat Asia dan Afrika secara kolektif. Forum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerjasama ekonomi bilateral dan multilateral antar negara-negara Asia-Afrika, mengembangkan alternatif sistem perdagangan yang lebih adil, dan membangun mekanisme pertahanan bersama terhadap intervensi eksternal. Selain itu, KAA Jilid II juga menjadi momentum untuk mengangkat isu-isu kemanusiaan universal seperti pemberdayaan ekonomi lokal, perlindungan hak asasi manusia, penghormatan terhadap kedaulatan nasional, dan pembangunan berkelanjutan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Dengan menghadirkan kembali semangat Bandung 1955 yang anti-imperialisme dan menjunjung tinggi prinsip-prinsip kemanusiaan, forum tersebut diharapkan dapat menjadi katalis untuk transformasi global yang lebih adil dan setara. Megawati juga menekankan bahwa kesuksesan KAA Jilid II sangat bergantung pada komitmen otentik dari pemimpin-pemimpin Asia dan Afrika untuk menempatkan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan korporasi global dan tekanan dari negara-negara hegemoni.

Pernyataan Megawati tersebut mengingatkan kembali bahwa perjalanan bangsa-bangsa Asia dan Afrika menuju kemandirian sejati masih panjang dan penuh tantangan. Dalam era ketika kekuatan ekonomi global semakin terkonsentrasi dan pengaruh soft power dari negara-negara maju semakin meresap, kehadiran platform regional yang kuat dan kohesif menjadi semakin urgen. KAA Jilid II dimaksudkan tidak hanya sebagai forum retrospektif yang mengingat-ingat kejayaan masa lalu, tetapi sebagai instrumen prospektif yang mampu mengartikulasikan visi bersama untuk masa depan yang lebih bermartabat. Megawati percaya bahwa dengan memperkuat solidaritas Asia-Afrika dan membangun mekanisme kerjasama yang saling menguntungkan, negara-negara di kedua benua tersebut dapat menciptakan counter-balance terhadap hegemoni global dan memastikan bahwa suara mereka didengar dalam penentuan arah peradaban dunia. Upaya ini adalah bagian integral dari perjuangan untuk membangun tatanan dunia baru yang lebih demokratis, berkeadilan, dan menghormati kedaulatan serta hak-hak fundamental semua bangsa.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow