Krisis Energi Global Membuka Mata: Negara-Negara Bergantung EBT Terhindar dari Guncangan Geopolitik

Ancaman penutupan Selat Hormuz menunjukkan betapa pentingnya energi terbarukan. Norvegi dan Islandia terbukti kebal berkat diversifikasi sumber energi mereka.

Mar 13, 2026 - 19:29
Mar 13, 2026 - 19:29
 0
Krisis Energi Global Membuka Mata: Negara-Negara Bergantung EBT Terhindar dari Guncangan Geopolitik

Obor Keadilan - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global, khususnya setelah ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Selat yang menjadi jalur krusial bagi pergerakan minyak dan gas alam cair dunia ini dilalui oleh sekitar 20-30 persen perdagangan energi internasional. Situasi ini menciptakan kepanikan di pasar energi global dan memaksa para pengambil kebijakan untuk mengevaluasi ulang strategi keamanan energi nasional mereka. Namun, di tengah krisis ini, dua negara menunjukkan ketahanan luar biasa berkat komitmen mereka terhadap pengembangan energi terbarukan yang telah dimulai bertahun-tahun sebelumnya. Kasus ini menjadi pembelajaran berharga bagi komunitas internasional tentang pentingnya diversifikasi sumber energi dan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Norvegi dan Islandia adalah dua negara yang berhasil memposisikan diri mereka sebagai pemain energi yang relatif mandiri dan tidak rentan terhadap guncangan pasar minyak global. Keduanya telah mengembangkan infrastruktur energi terbarukan yang masif dalam beberapa dekade terakhir. Norvegi, sebagai produsen minyak terbesar Eropa, malah memiliki kapasitas hidroelektrik yang menyuplai lebih dari 95 persen kebutuhan listrik domestiknya, sedangkan Islandia mengandalkan kombinasi energi geotermal dan hidroelektrik untuk mencapai near-100 persen energi terbarukan. Kemandirian energi ini memberikan mereka fleksibilitas strategis yang tidak dimiliki negara-negara lain yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Timur Tengah. Ketika krisis Selat Hormuz terjadi, kedua negara ini mengalami dampak minimal pada stabilitas listrik dan energi domestik mereka, sementara negara-negara lain bersiap untuk menghadapi lonjakan harga energi yang signifikan.

Para ahli energi dan analis geopolitik internasional secara serempak menyerukan percepatan transisi energi terbarukan sebagai strategi jangka panjang untuk mengurangi kerentanan ekonomi negara-negara terhadap guncangan pasokan energi. Investasi dalam teknologi surya, angin, geotermal, dan hidro tidak hanya menjadi imperatif lingkungan tetapi juga menjadi pertimbangan keamanan nasional yang serius. Studi terbaru menunjukkan bahwa setiap persen peningkatan ketergantungan pada energi terbarukan secara signifikan menurunkan dampak volatilitas harga energi fosil terhadap ekonomi nasional. Lebih lanjut, pengembangan energi terbarukan juga menciptakan lapangan kerja lokal yang berkelanjutan dan mengurangi outflow devisa negara untuk pembelian energi impor. Momentum krisis Selat Hormuz ini diharapkan menjadi titik balik bagi pengambil kebijakan global untuk memprioritaskan investasi infrastruktur energi bersih daripada terus memperpanjang ketergantungan pada produk bahan bakar fosil.

Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan potensi energi terbarukan yang luar biasa besar, memiliki kesempatan emas untuk meniru langkah strategis yang diterapkan Norvegi dan Islandia. Dengan potensi surya yang mencapai 4-6 kWh per meter persegi per hari, kapasitas angin yang tersebar di berbagai pulau, dan sumber geotermal yang merupakan terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat, Indonesia sebenarnya memiliki aset energi terbarukan yang jauh lebih kaya. Namun, realisasi potensi ini masih terhambat oleh keterbatasan investasi, infrastruktur transmisi yang belum optimal, dan komitmen jangka panjang yang belum konsisten dari tingkat pemerintah pusat hingga daerah. Pelajaran dari krisis Selat Hormuz ini hendaknya menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transisi energi, tidak hanya untuk mengurangi emisi karbon tetapi juga untuk membangun ketahanan ekonomi nasional yang lebih kuat menghadapi fluktuasi pasar energi global di masa depan.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow