Komisi V DPR Desak KAI Perbaiki Sistem Sinyal dan Prosedur Keselamatan Operasional Kereta Api

Komisi V DPR mendesak KAI melakukan perbaikan infrastruktur dan operasional kereta api setelah insiden tabrakan Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur. Sistem sinyal yang belum optimal menjadi penyebab utama yang harus segera ditangani.

Apr 28, 2026 - 16:33
Apr 28, 2026 - 16:33
 0
Komisi V DPR Desak KAI Perbaiki Sistem Sinyal dan Prosedur Keselamatan Operasional Kereta Api

Obor Keadilan - Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Syaiful Huda, mengeluarkan desakan keras kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh terhadap sistem infrastruktur dan prosedur operasional. Desakan ini disampaikan menyusul insiden tabrakan yang menimpa Kereta Api Argo Bromo Anggrek dengan Kereta Rel Listrik (KRL) di kawasan Bekasi Timur beberapa waktu lalu. Menurut Huda, permasalahan fundamental yang menjadi akar penyebab kecelakaan tersebut terletak pada sistem sinyal kereta yang belum berfungsi optimal dan rentan mengalami gangguan teknis. Beliau menekankan bahwa kegagalan sistem sinyal ini seharusnya menjadi momentum evaluasi mendalam bagi seluruh infrastruktur kereta api di Indonesia, mengingat keselamatan penumpang harus menjadi prioritas utama dalam setiap operasional transportasi darat.

Melalui berbagai penelaahan data dan investigasi lapangan, Komisi V telah mengidentifikasi sejumlah celah signifikan dalam protokol keselamatan dan maintenance yang dilakukan oleh pihak KAI. Sistem sinyal yang seharusnya berfungsi sebagai mekanisme peringatan dini untuk mencegah tabrakan antar kereta telah terbukti tidak responsif dalam beberapa momen kritis. Huda menjelaskan bahwa keterlambatan upgrade teknologi sinyal dan kurangnya pengawasan berkala terhadap peralatan keselamatan menjadi kontribusi utama terhadap terjadinya insiden tersebut. Lebih lanjut, beliau menggarisbawahi pentingnya review menyeluruh terhadap standard operating procedure (SOP) yang telah ditetapkan untuk memastikan konsistensi penerapannya di lapangan. Komisi V juga mengusulkan adanya peningkatan kapasitas dan kompetensi sumber daya manusia yang bertanggung jawab dalam pengoperasian sistem keselamatan kereta api.

Representasi dari Komisi V DPR telah menjadwalkan pertemuan resmi dengan manajemen puncak PT KAI untuk mendiskusikan roadmap perbaikan infrastruktur dan operasional. Dalam pertemuan tersebut, pihak legislatif akan meminta presentasi detail mengenai timeline implementasi teknologi sinyal terkini, alokasi anggaran untuk peremajaan peralatan, serta strategi pelatihan ulang bagi operator kereta api. Huda menegaskan bahwa Komisi V akan melakukan monitoring ketat terhadap progress perbaikan yang dilakukan KAI, dan tidak akan segan-segan memberikan rekomendasi untuk pengenaan sanksi administratif jika target perbaikan tidak terpenuhi sesuai jadwal yang disepakati. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kunci dalam pengawasan ini, sebab kepercayaan masyarakat terhadap transportasi kereta api sangat bergantung pada kredibilitas institusi dalam menangani masalah keselamatan.

Skandal keselamatan transportasi kereta api ini juga membuka diskusi lebih luas tentang modernisasi infrastruktur transportasi nasional yang sudah berusia puluhan tahun. Banyak jaringan kereta api di Indonesia masih mengandalkan sistem dan teknologi yang tidak lagi sesuai dengan standar keselamatan internasional, sehingga perlu penggantian secara bertahap namun mendesak. Para ahli transportasi menyarankan bahwa pemerintah harus mengalokasikan sumber daya finansial yang signifikan untuk program revitalisasi infrastruktur kereta api sebagai bagian dari komitmen terhadap keselamatan publik. Komisi V DPR berkomitmen untuk memperjuangkan hal tersebut melalui mekanisme perundangan dan pengawasan yang ada, sehingga insiden serupa dapat diminimalkan dan kepercayaan pengguna jasa kereta api dapat kembali dipulihkan dengan solid.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow