Iran Tegaskan Posisi Tak Tergoyahkan: Selat Hormuz dan Tuntutan Kompensasi Tetap Menjadi Garis Merah

Wakil Presiden Iran Mohammad Aref menegaskan bahwa Teheran tetap kokoh mempertahankan hak atas Selat Hormuz dan menuntut kompensasi dari Amerika Serikat, meskipun perundingan bilateral telah mencapai jalan buntu.

Apr 12, 2026 - 23:08
Apr 12, 2026 - 23:08
 0
Iran Tegaskan Posisi Tak Tergoyahkan: Selat Hormuz dan Tuntutan Kompensasi Tetap Menjadi Garis Merah

Obor Keadilan - Wakil Presiden Iran, Mohammad Aref, menegaskan dengan tegas bahwa Teheran tidak akan berkompromi dalam memperjuangkan kedaulatan dan hak-haknya di tingkat internasional, termasuk soal kontrol terhadap Selat Hormuz yang strategis serta tuntutan kompensasi kepada Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan usai serangkaian negosiasi bilateral yang dilakukan antara delegasi Iran dan Amerika Serikat mengalami jalan buntu. Aref menekankan bahwa posisi Teheran dalam setiap forum perundingan didasarkan pada prinsip-prinsip konstitusional yang tidak dapat ditawar-tawar, dan komitmen tersebut akan terus dijaga demi kepentingan nasional Iran serta kehormatan bangsa.

Selat Hormuz, yang merupakan jalur laut paling strategis di kawasan Teluk Persia, menjadi salah satu titik kontliktu utama dalam hubungan bilateral Iran-Amerika yang terus memburuk. Sebagai penguasa geografis wilayah tersebut, Iran memandang kontrol atas selat ini sebagai bagian integral dari hak berdaulat negaranya yang tidak dapat diserahkan kepada pihak mana pun. Dalam konteks geopolitik global, Selat Hormuz menjadi jalur vital bagi perdagangan minyak internasional, dengan jutaan barel minyak mentah melewati perairan tersebut setiap harinya. Posisi strategis ini memberikan Iran leverage diplomatik yang signifikan, dan pemerintah Teheran tidak berniat untuk melepaskan keuntungan tersebut dalam setiap proses negosiasi dengan Washington maupun negara-negara Barat lainnya.

Di samping isu Selat Hormuz, tuntutan kompensasi terhadap Amerika Serikat juga menjadi agenda tidak tergoyahkan bagi delegasi Iran. Teheran memandang berbagai kebijakan sanki ekonomi dan intervensi Amerika Serikat dalam urusan internal Iran sebagai tindakan yang merugikan ekonomi nasional serta menciptakan penderitaan bagi rakyat Iran secara luas. Dengan demikian, pemerintah Iran menganggap bahwa kompensasi finansial merupakan bentuk pertanggungjawaban yang wajar dan harus dipenuhi oleh Amerika Serikat sebagai negara yang dirasa telah melakukan kesalahan dalam hubungan bilateral. Wakil Presiden Aref menegaskan bahwa negosiasi yang sedang berlangsung tidak akan mencapai kesepakatan sampai Amerika Serikat menunjukkan kesediaan untuk mengakui kesalahan-kesalahannya dan memberikan kompensasi yang sesuai dengan kerugian yang telah dialami Iran.

Meskipun negosiasi terkini berakhir dalam jalan buntu, Iran tetap membuka pintu untuk dialog diplomatik yang lebih konstruktif di masa mendatang, namun dengan syarat bahwa semua pihak harus bersedia menghormati kedaulatan dan hak-hak Iran sebagai negara berdiri sendiri. Teheran juga menekankan bahwa keberlanjutan dialog multilateral hanya dapat terwujud apabila AS dan sekutunya bersedia mengubah pendekatan konfrontatif mereka menjadi sikap yang lebih menghargai hukum internasional dan prinsip-prinsip kesetaraan. Dalam situasi geopolitik yang terus dinamis, komitmen Iran untuk mempertahankan kedaulatan dan menuntut kompensasi yang adil menjadi pesan kuat kepada komunitas internasional bahwa Teheran tidak akan mengambil jalan pintas dalam memperjuangkan kepentingan nasionalnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow