Evaluasi SBY atas Ambisi Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Prabowo: Realistis atau Sekadar Slogan?

SBY menilai target pertumbuhan ekonomi 6 persen Prabowo bersifat ambisius namun dapat dicapai, dengan menekankan perlunya strategi komprehensif dan pembangunan berkelanjutan hingga 2027.

Aug 18, 2026 - 03:42
Aug 18, 2026 - 03:42
 0
Evaluasi SBY atas Ambisi Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen Prabowo: Realistis atau Sekadar Slogan?

Obor Keadilan - Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mantan Presiden Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam mengelola perekonomian nasional, kembali memberikan pandangan kritisnya terhadap target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen yang dicanangkan oleh Prabowo Subianto di periode kepemimpinannya mendatang. Dalam pernyataannya yang disampaikan kepada media, SBY mengakui bahwa target tersebut memang tergolong ambisius, namun pada saat bersamaan beliau juga menekankan bahwa pencapaian angka pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diraih. Pandangan moderat dari tokoh senior ini menjadi penting mengingat pengalamannya selama dua dekade dalam dunia kepemimpinan nasional, khususnya dalam menangani berbagai tantangan ekonomi yang kompleks. Pernyataan SBY juga menyoroti dengan seksama arah pembangunan ekonomi Indonesia yang diharapkan dapat berlangsung hingga tahun 2027, memasuki era baru dalam sistem perekonomian nasional.

Perlu dicatat bahwa target pertumbuhan ekonomi 6 persen merupakan ambisi yang signifikan mengingat kondisi perekonomian global yang masih penuh dengan ketidakpastian pasca pandemi COVID-19. Berdasarkan data terkini, pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun terakhir masih berada di kisaran 5 hingga 5,5 persen, sehingga peningkatan sebesar 0,5 hingga 1 persen membutuhkan strategi yang matang dan implementasi kebijakan yang tepat sasaran. SBY dalam analisisnya mencermati bahwa untuk mencapai target tersebut, pemerintahan Prabowo harus mampu mengoptimalkan sektor-sektor strategis, meningkatkan investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri, serta mendorong daya saing industri manufaktur Indonesia di pasar internasional. Mantan presiden ini juga menekankan pentingnya stabilitas politik dan keamanan dalam mendukung iklim investasi yang kondusif, mengingat kedua faktor tersebut memiliki dampak langsung terhadap keputusan investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

SBY secara khusus juga menyentuh dimensi pembangunan berkelanjutan yang harus seiring berjalan dengan pencapaian target pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurut pandangan beliau, pertumbuhan ekonomi yang sehat bukan hanya diukur dari angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) semata, akan tetapi juga harus memperhatikan aspek pemerataan hasil pembangunan kepada seluruh lapisan masyarakat, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pelestarian lingkungan hidup untuk generasi mendatang. Dalam konteks ini, SBY mengingatkan bahwa tantangan pembangunan Indonesia hingga tahun 2027 bukan hanya tentang mencapai target makroekonomi, melainkan juga tentang bagaimana distribusi manfaat pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat, terutama mereka yang berada di daerah-daerah tertinggal dan komunitas yang rentan secara ekonomi.

Lebih lanjut, SBY menguraikan bahwa pencapaian target pertumbuhan ekonomi 6 persen memerlukan komitmen penuh dari seluruh elemen pemerintahan, khususnya kementerian yang memiliki tugas menangani sektor-sektor ekonomi kunci seperti industri, perdagangan, pertanian, energi, dan infrastruktur. Beliau juga menekankan perlunya reformasi birokrasi yang mendalam untuk mengurangi hambatan administratif yang sering kali memperlambat proses investasi dan pengembangan usaha, baik bagi usaha kecil menengah (UKM) maupun korporasi besar. Pandangan SBY ini sejalan dengan pengalaman beliau selama memimpin negara, di mana berbagai kebijakan reformasi struktural telah dilakukan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi. Dengan demikian, pernyataan SBY dapat dipandang sebagai suatu ajakan kepada pemerintahan Prabowo untuk tidak hanya berfokus pada angka pertumbuhan ekonomi semata, akan tetapi juga memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil didasarkan pada perencanaan matang, konsultasi dengan berbagai stakeholder, dan komitmen jangka panjang untuk membangun perekonomian Indonesia yang lebih tangguh, inklusif, dan berkelanjutan menjelang tahun 2027 dan seterusnya.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow