APTRI Ungkap Mismanajemen Parah di Sugar Co, Rugi Rp 680 Miliar Jadi Bukti Krisis Pengelolaan BUMN
APTRI menyelidiki kerugian besar Sugar Co senilai Rp 680 miliar, mengidentifikasi manajemen yang kurang kreatif sebagai penyebab utama krisis BUMN ini, dengan dampak serius terhadap petani tebu rakyat.
Obor Keadilan - Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) telah mengeluarkan pernyataan tegas terkait kondisi finansial yang sangat memprihatinkan pada PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), atau yang lebih dikenal dengan Sugar Co. Organisasi yang mewakili kepentingan petani tebu di seluruh nusantara ini mengungkapkan bahwa kerugian yang dialami perusahaan milik negara tersebut telah mencapai angka fantastis yaitu sebesar Rp 680 miliar. Dalam analisis mendalam yang dilakukan oleh APTRI, kerugian besar ini bukanlah merupakan dampak dari fluktuasi pasar global atau kondisi eksternal yang tidak terkontrol, melainkan hasil dari manajemen internal yang dinilai sangat kurang kreatif dan strategis dalam menghadapi tantangan bisnis industri gula nasional.
Menurut penjelasan dari para pemimpin APTRI, permasalahan fundamental yang menjadi akar dari kerugian masif ini terletak pada ketidakmampuan manajemen Sugar Co dalam mengadaptasi strategi bisnis mereka terhadap dinamika pasar yang terus berubah. Organisasi petani ini menekankan bahwa dalam era transformasi digital dan globalisasi perdagangan komoditas, sebuah badan usaha milik negara seharusnya mampu menunjukkan inovasi dan kreativitas yang lebih tinggi. Akan tetapi, Sugar Co justru terjebak dalam pola operasional yang konvensional dan kurang responsif terhadap peluang-peluang baru yang muncul di industri gula. APTRI mengkritik bahwa manajemen perusahaan ini tampak mengalami kelambanan dalam pengambilan keputusan strategis, sehingga peluang-peluang bisnis yang sebenarnya terbuka lebar justru terlewatkan begitu saja.
Dari perspektif APTRI, kerugian yang dialami Sugar Co juga mencerminkan permasalahan koordinasi yang buruk antara manajemen perusahaan dengan para petani tebu rakyat yang merupakan mitra penting dalam rantai produksi. Asosiasi ini menunjukkan bahwa ketika perusahaan inti mengalami kesulitan, dampaknya langsung terasa oleh petani-petani skala kecil yang menggantungkan penghasilannya dari kontrak penjualan tebu. Krisis manajemen yang terjadi di tingkat korporat ini telah menciptakan ketidakpastian bagi ribuan keluarga petani di berbagai daerah penghasil tebu. APTRI memandang bahwa tanggungjawab pemerintah sebagai pemilik BUMN harus lebih serius dalam melakukan evaluasi dan restrukturisasi manajemen untuk menyelamatkan perusahaan dari kebangkrutan.
Menghadapi situasi yang semakin kritis ini, APTRI telah mengajukan sejumlah rekomendasi konkret kepada pemerintah dan jajaran direksi Sugar Co. Organisasi petani ini menegaskan perlunya perubahan kepemimpinan yang membawa cara pandang segar dan strategi bisnis yang lebih inovatif untuk industri gula nasional. Selain itu, APTRI juga menekankan pentingnya transparansi penuh dalam pengelolaan keuangan perusahaan dan komunikasi terbuka dengan para pemangku kepentingan termasuk petani tebu. Dengan langkah-langkah perbaikan yang tegas dan terukur, APTRI optimis bahwa Sugar Co masih memiliki peluang untuk bangkit dari keterpurukan finansial ini dan kembali menjadi tulang punggung industri gula yang kokoh di Indonesia.
What's Your Reaction?