Oleh: Obor Panjaitan – Ketua Ikatan Pers Anti Rasuah (IPAR)
Tragedi memilukan yang terjadi di Ngada, Nusa Tenggara Timur, di mana seorang siswa kelas IV Sekolah Dasar mengakhiri hidupnya karena orang tuanya tidak mampu membeli buku dan alat tulis, seharusnya menjadi tamparan keras bagi bangsa ini. Peristiwa ini bukan sekadar masalah kemiskinan, tetapi cermin retak sistem sosial, ekonomi, dan politik republik kita. �SINDOnews Nasional
Pengamat politik Rocky Gerung menyoroti kejadian ini sebagai bukti nyata bahwa negara gagal menjamin keadilan sosial, sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan amanat konstitusi. Faktanya, negara sibuk merayakan angka-angka besar dan proyek strategis, sementara rakyat kecil tercecer dalam realitas brutal kebutuhan dasar yang tak terpenuhi. �Herald ID
Penderitaan seorang anak yang merasa tidak memiliki pilihan lain menunjukkan bahwa ketimpangan struktural telah merasuk jauh ke dalam sendi kehidupan masyarakat. Ketika harga sebuah buku yang nilainya sangat kecil menjadi beban hidup, itu bukan kegagalan satu orang tua — tetapi kegagalan negara dalam memastikan hak atas pendidikan, kesejahteraan, dan masa depan. �RMOLJATIM
Kondisi ini semakin menguatkan keyakinan saya bahwa negara sedang dikuasai oleh kekuatan rapuh yang takut pada perubahan: oligarki yang memonopoli kekuasaan dan sumber daya. Mereka bukan hanya menyusun kebijakan yang jauh dari realitas rakyat, tetapi juga membiarkan sistem yang merugikan rakyat kecil terus bertahan. Ketika kebijakan lebih memihak kepada kepentingan korporasi dan elite, rakyat kecil akan terus merasakan ketidakadilan.
Kita tidak sedang berbicara tentang kesalahan mikro yang bisa dianggap sebagai insiden tunggal. Ini adalah manifestasi kegagalan respoke struktur sosial dan politik — ketika dasar kehidupan seperti pendidikan, kesejahteraan keluarga, dan hak asasi anak tidak lagi dipandang sebagai prioritas.
Jika negara sungguh-sungguh menjunjung keadilan sosial, maka tragedi anak SD di NTT bukan menjadi headline sesaat. Negara harus bertanggung jawab secara struktural — memperbaiki sistem pendidikan, menjamin akses yang layak, menjamin jaringan pengaman sosial, dan memastikan kebijakan tidak hanya berbicara tentang angka pertumbuhan, tetapi mampu menyentuh kehidupan nyata rakyat kecil.
Kesetaraan, bukan slogan politik. Keadilan sosial, bukan sekadar retorika. Kita tidak membutuhkan negara yang hanya tampil di panggung besar, tetapi negara yang hadir dalam kehidupan sehari-hari rakyatnya.
