|

PIDATO KERING DI ATAS TANAH BASAH AIR MATA

Media Nasional Obor Keadilan Jakarta, Minggu (21-12-2025), 

Negeri ini sedang basah. Bukan semata oleh hujan, melainkan oleh air mata rakyat yang kehilangan rumah, anak, orang tua, dan masa depan.

Aceh, Sumatra Barat, Papua—dan entah berapa titik lain di peta Indonesia—

berteriak minta tolong. Namun yang kerap datang bukan solusi, melainkan pidato rapi dari podium yang tetap kering.

Di lapangan, kenyataan berbicara lain: anak-anak tidur di tenda robek, lansia menggigil tanpa obat, ibu-ibu mengantre bantuan sambil menahan lapar.

Di layar kaca, yang tersaji justru sebaliknya: kalimat indah, statistik manis, dan janji yang selalu “sedang diupayakan”.

Pemerintah seolah lupa: kami bukan audiens seminar. Kami manusia yang sedang berjuang bertahan hidup.

Kami membayar pajak. Bukan untuk membiayai narasi. Bukan untuk memoles citra.

Melainkan untuk keselamatan, kehadiran, dan tanggung jawab negara yang nyata. Jika negara terlalu lama absen, jangan salahkan rakyat jika kecewa berubah menjadi marah.

Sejarah mengajarkan satu hal: revolusi tidak lahir dari hasutan, melainkan dari keputusasaan yang dibiarkan.

Ini bukan ancaman. Ini peringatan. Kami tidak meminta belas kasihan. Kami menuntut kewajiban negara.

Karena diam kami adalah luka, dan suara kami adalah hak. Jika pidato lebih penting daripada nyawa, maka jangan heran bila rakyat berhenti percaya.

Negeri ini tidak butuh lebih banyak kata. Negeri ini butuh kehadiran, keberanian, dan kejujuran.

OlehRoostin Ilyas

Tokoh Perlindungan Perempuan dan Anak, Pengamat dan Aktivis Sosial

Indonesia, 20 Desember 2025

Komentar

Berita Terkini