
Ist: illustasi
Oleh: Saiful Huda Ems
OK- Jakarta (26/02-26) Menyaksikan semakin hancurnya tatanan pemerintahan, politik, dan perekonomian Indonesia setelah dipimpin selama sepuluh tahun oleh Joko Widodo dan dilanjutkan oleh Prabowo Subianto, saya kembali teringat pada nasihat bijaksana filsuf besar Plato.
Dalam Republik (Buku VIII), Plato menjelaskan bahwa sebuah negara akan rusak ketika dipimpin oleh serdadu atau kaum yang mencintai kehormatan dan kemenangan perang — yang ia sebut sebagai Timokrasi. Ia menulis:
“Negara yang dipimpin oleh orang-orang yang mencintai kehormatan dan kemenangan perang akan lebih mengutamakan kekuatan daripada kebijaksanaan. Sehingga perlahan menjauh dari keadilan, dan akhirnya merosot ke bentuk pemerintahan yang lebih buruk.”
Bagi Plato, negara ideal harus dipimpin oleh Filsuf-Raja (Philosopher-King) — pemimpin yang mencintai kebijaksanaan dan memahami kebaikan sejati.
![]() |
| Saiful Huda Ems (SHE) |
Jika kita mau jujur, Joko Widodo bukanlah tipe Filsuf-Raja. Ia lebih tepat disebut sebagai “Ngibul King” alias Raja Ngibul. Sementara pemerintahan Prabowo Subianto sangat mendekati gambaran Timokrasi Plato. Tak heran ia kerap mengejar kehormatan dan kejayaan, dengan sering menyanjung-nyanjung dirinya sendiri melalui halusinasi keberhasilan program-program kerjanya yang kacau dan gagal, serta romantisme keprajuritannya di masa lalu dalam setiap orasi yang menggebu-gebu dan ingin disamakan dengan orasi Bung Karno.
Kalau negara ini dibiarkan terus dipimpin oleh Jenderal Gembos dan Bocil anak haram konstitusi, maka cepat atau lambat akan jatuh ke jurang kehancurannya. Oleh sebab itu, sudah sewajarnya kita sebagai rakyat mulai mempersiapkan sebaik-baiknya para calon pemimpin yang berlatar belakang pemikir.
Istilah “pemikir” di sini adalah penyederhanaan dari konsep Filsuf-Raja Plato. Sebab di negeri ini, mencari Filsuf-Raja sejati memang sulit ketika alokasi dana pendidikan terus diserobot untuk proyek MBG.
Revolusi sistemik memang sangat diperlukan, namun di negara yang sudah sedemikian rusak oleh Jokowi dan Prabowo, memperbaiki sistem semata hanyalah ilusi yang mengobati frustrasi. Daripada sibuk berdebat “sistem dulu atau figur dulu”, lebih baik kita putuskan sekarang: kembalikan negara ke tangan para pemikir, dan Indonesia akan berubah jauh lebih baik!
Bagaimana menurut Anda?
Sapere aude! (Beranilah berpikir!)
25 Februari 2026
Saiful Huda Ems (SHE)
Redaksi Media Nasional Obor Keadilan

