Iran | Media Nasional Obor Keadilan | Sabtu (10/01-2026), Tokoh oposisi Iran Reza Pahlavi secara terbuka menyerukan mogok nasional, perebutan pusat-pusat kota, serta pelumpuhan mesin ekonomi dan aparat penindasan Republik Islam Iran. 
Foto: Reza Pahlavi.
Dihimpun oleh redaksi media nasional Obor keadilan bahwa Seruan keras tersebut disampaikan langsung melalui pidato video resmi yang diunggah di akun X miliknya dan telah ditonton jutaan kali, menandai eskalasi politik paling terbuka dalam konflik antara rakyat Iran dan rezim berkuasa.
Dalam pidato itu, Reza Pahlavi memuji keberanian rakyat Iran yang kembali turun ke jalan secara masif di berbagai kota. Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan jawaban telak terhadap ancaman pimpinan Republik Islam, yang ia sebut berkhianat dan kriminal. Menurutnya, rezim tidak lagi berada pada posisi percaya diri, melainkan terdesak, takut, dan rapuh, bahkan harus bersembunyi dari rakyatnya sendiri.
Lebih jauh, Reza Pahlavi menegaskan bahwa perlawanan telah memasuki fase baru. Ia menyerukan agar kehadiran massa di jalan tidak lagi bersifat simbolik, melainkan terarah, terorganisir, dan berkelanjutan, disertai strategi memutus urat nadi keuangan negara.
Secara eksplisit ia mengajak buruh dan pekerja sektor strategis—transportasi, minyak, gas, dan energi—untuk memulai mogok nasional serentak sebagai senjata utama melumpuhkan rezim.
Rakyat Iran juga diminta turun ke jalan dengan membawa bendera dan simbol nasional, merebut serta menguasai ruang publik.
Targetnya dinyatakan tanpa basa-basi: bukan lagi sekadar demonstrasi, melainkan persiapan untuk menguasai dan mempertahankan pusat-pusat kota. Massa diarahkan bergerak melalui berbagai jalur, menyatukan kelompok-kelompok terpisah, serta bersiap bertahan di jalan dengan logistik yang memadai.
Seruan tersebut diperluas hingga ke dalam tubuh aparat. Reza Pahlavi secara terbuka meminta unsur angkatan bersenjata dan keamanan yang berpihak pada rakyat untuk memperlambat, mengacaukan, dan melumpuhkan mesin represi dari dalam, agar pada saat penentuan kekuatan penindasan negara dapat dihentikan sepenuhnya.
Di bagian akhir pidatonya, Reza Pahlavi menyatakan tengah mempersiapkan kepulangan ke Iran, dengan keyakinan bahwa kemenangan revolusi nasional sudah dekat. Pernyataan ini menjadi sinyal politik yang tegas: transisi kekuasaan tidak lagi sekadar wacana moral, tetapi mulai diproyeksikan sebagai agenda konkret.
Situasi internal Iran yang memanas ini berlangsung bersamaan dengan eskalasi ketegangan geopolitik internasional. Dalam beberapa pekan terakhir, sinyal konflik terbuka semakin kuat terkait rencana militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, baik dalam bentuk serangan langsung maupun operasi terbatas.
Isu program nuklir Iran dan perannya dalam konflik regional kembali dijadikan dalih utama tekanan militer.
Tekanan eksternal itu berkelindan dengan ledakan perlawanan domestik. Aksi demonstrasi rakyat yang menolak rezim Ayatullah—sebuah sistem kekuasaan yang berakar sejak Revolusi Islam di bawah kepemimpinan Ayatullah Khomeini—kembali merebak di berbagai kota besar.
Kombinasi ancaman perang dari luar dan perlawanan rakyat dari dalam menempatkan Republik Islam Iran dalam krisis legitimasi paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Pidato ini merupakan pernyataan langsung Reza Pahlavi melalui video resmi, bukan tafsir pihak ketiga atau spekulasi politik. Media Nasional Obor Keadilan menilai kondisi Iran saat ini berada pada titik didih sejarah: ketika tekanan geopolitik global dan keberanian rakyat sipil bertemu, rezim represif apa pun berpotensi runtuh dari dalam.
Penulis: Yuni Shara