HEADLINE

Tanggapan Kapendam XVII/Cenderawasih Terkait Natalius Pigay Asal Ngomong

/

Redaksi / Senin, 16 Juli 2018 / 09:25 WIB

Sebarkan:
Ket Foto : Tanggapan Kapendam XVII/Cenderawasih Terkait Natalius Pigay Asal Ngomong

Media Nasional Obor Keadilan | JAYAPURA | Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf. Muh. Aidi mengatakan bahwa sebagaimana Klarifikasi saya sebelumnya dan sekali lagi saya menegaskan bahwa tidak ada penggunaan Pesawat Helly milik TNI baik milik TNI AD, AU, AL yang  beroperasi di Nduga hingga saat ini, baik untuk kegiatan Admistrasi/pendorongan Logistik, apalagi untuk serbuan dan pengeboman. Kejadian tanggal 11 Juli yang lalu adalah 1 unit Helly milik Polairut yang bertugas untuk mengangkut Logistik dari Timika ke Kenyam namun pada saat akan Landing di Bandara Kenyam mendapatkan serangan tembakan dari arah Aluguru sehingga anggota Brimob yg mengawal di Pesawat membalas tembakan dari atas Pesawat dibantu oleh Aparat Kepolisian yang sedang melaksanakan pengamanan di darat, Senin (16/07/18).

Akibat insiden tersebut tidak diketahui, apakah ada yang jatuh korban atau tidak dari pihak penyerang, karena Aparat Keamanan tidak melaksanakan pengejaran lanjutan, walaupun mereka laporkan bahwa ada jatuh korban pasti korban tersebut dari pihak KKSB yang melaksanakan serangan, bukan masyarakat biasa karena Aparat Keamanan hanya membalas tembakan ke arah datangnya serangan.

Sebelumnya telah dilaksanakan pertemuan dan Rapat antara pihak TNI, Polri dan Pemda Nduga dengan menyatakan bahwa Aluguru adalah tempat yang dijadikan Markas oleh KKSB yang berkumpul dari kelompok Mapenduma, Sinak, Tiom dll. Indikasi awalnya mereka mau menggagalkan Proses Pilkada di Nduga dengan melaksanakan serangkaian  Aksi Terror diantaranya menembaki Pesawat Angkutan Sipil yang sangat dibutuhkan untuk memasok kebutuhan pokok Masyarakat Nduga, membantai Masyarakat Sipil tak berdosa, bahkan anak kecilpun ikut dibacok dan dalam Rapat tersebut disepakati bahwa akan dilaksanakan Penindakan dan Penegakan Hukum dengan mengedepankan tindakan Polisioner, sedangkan Aparat TNI tetap melaksanakan Pembinaan Wilayah, namun secara Insidentil apabila dipandang perlu, pasukan TNI akan bergerak terhadap sasaran terpilih, jadi segala tindakan Aparat Keamanan di Nduga telah dikoordinasikan dengan pihak Pemda setempat.

Kehadiran aparat Keamanan di Nduga, khususnya Satuan Brimob dari Kepolisian adalah dalam rangka pengamanan Pilkada sekaligus Penindakan dan Penegakan Hukum terhadap pelaku penembakan Pesawat dan pembantaian terhadap Masyarakat, sedangkan pasukan TNI sudah Insert sejak lama di Nduga hingga sekarang belum ada penambahan pasukan.

Keterangan dari Egianus Kogoya bahwa ada 4 unit Pesawat Hellycopter milik TNI. AU melaksanakan Serangan Udara dan Pengeboman di Aluguru sangat tidak mendasar meskipun yang bersangkutan menyatakan bahwa dia sendiri sebagai saksinya, itu sangat wajar karena memang dia dan kelompoknyalah yang menjadi sasaran Penegakan Hukum oleh Aparat Keamanan setelah melakukan serangkaian Aksi Terror dan pembantaian terhadap Warga Masyarakat tak berdosa. Keterangan yang disampaikan oleh Saudara Egianus adalah upaya memutar balikkan Fakta untuk  mendapatkan perhatian dan dukungan dari pihak-pihak yang berkepentingan atau mungkin Saudara Egianus Kogoya sudah kelamaan di Hutan sehingga sudah tidak bisa lagi menghitung untuk membedakan jumlah 1 dan 4 atau Warna Pesawat putih, biru dan hitam, kalau yang bersangkutan melaporkan bahwa ada 7 orang anak buahnya yang hilang berarti kemungkinan tembakan yang dilancarkan oleh Aparat Keamanan tepat Sasaran, sebagai Konsekuensi atau Resiko dari suatu Aksi.

Sebagai penegasan bahwa kegiatan kepemilikan dan menggunakan Senjata secara Illegal dan melakukan perlawanan terhadap Kedaulatan Negara adalah tindakan melanggar Hukum, tidak pernah dibenarkan oleh Hukum dan UU manapun, sehingga sangat di sayangkan adanya sekelompok orang yang mengaku Pakar Hukum dan pemerhati HAM, justru membela Pelanggaran Hukum dan membela pelaku kekejaman yang tidak berperikemanusiaan, sebaliknya justru berusaha menyerang Aparat Keamanan yang hendak melaksanakan Penegakan dan Penindakan Hukum dan atas Aksi tersebut Aparat Keamanan akan terus melaksanakan pengejaran dalam rangka Penindakan dan Penegakan Hukum, namunpun demikian apabila KKSB secara Sukarela mau menyerahkan diri beserta Senjatanya kepada pihak berwajib maka akan dijamin Keamanan dan Keselamatannya tetapi apabila terpaksa harus ditempuh dengan Kontak Senjata maka Resiko ditanggung oleh masing-masing pihak.

Informasi bahwa adanya Masyarakat yang lari mengungsi ke Hutan, itu tidak benar karena di Kenyam, Nduga saat ini Situasi Kondusif, Aktifitas Masyarakat normal, Mama-Mama dan pemilik Toko sudah mulai buka Kios dan Jualan. Yang dimaksud Masyarakat ke Hutan adalah Masyarakat yang berasal dari Distrik Yuguru, Paro, Mugi dan Mapenduma yang akan pulang dari Kenyam ke Kampungnya masing-masing dengan jalan kaki melewati Hutan karena tidak ada dukungan Pesawat. Waktu tempuh bervariasi sesuai dengan jarak antara 1-3 hari, hal tersebut sudah menjadi kebiasaan Masyarakat Nduga selama ini, makanya Masyarakat Nduga sangat berharap agar jalan Trans Papua yang menghubungkan Wamena-Nduga dan melintasi Distrik Yuguru, Paro, Mapenduma, Yigi dam Mbua dapat segera dioperasionalkan. Info tentang adanya Masyarakat Toraja yang Eksodus ke Pelabuhan Pomako Timika, setelah kami Konfirmasi dengan Pemda dan Aparat Keamanan di Nduga bahwa mereka bukan dari Kenyam tapi dari Agast, Kabupaten Asmat karena sejak Peristiwa Pembantaian Masyarakat di Kenyam belum pernah lagi ada Kapal yang masuk, termasuk yang berangkat dari Pelabuhan Batas Batu. Kapal terakhir adalah Kapal yang difasilitasi Pemda yang berangkat dari Pelabuhan Batas Batu pada tanggal 11 Juni 2018 untuk mengangkut Masyarakat ke Timika dan ke Agast, termasuk Istri dan Anaknya Pak Bupati, hingga saat ini belum ada Kapal yang berani masuk ke Nduga.

Sangat di sayangkan pernyataan dari Saudara Natalius Pigey yang menyatakan dirinya Pakar Hukum dan pemerhati HAM serta mengklaim dirinya sebagai Warga Negara Indonesia dan cinta NKRI.

Lanjut Kapendam XVII/Cenderawasih bahwa saat terjadi penembakan terhadap Pesawat Sipil secara berturut-turut yang Notabene merupakan Sarana Angkut Sipil yang sangat Vital mendukung Masyarakat memasok kebutuhan pokok Rakyat Nduga, dan Pembantaian terhadap Warga Sipil yang tak berdosa termasuk anak kecil umur 6 Tahun di Nduga. Penembakan terhadap Aparat Keamanan dan Aparat Negara yang melaksanakan tugas Negara di Puncak sehingga mengakibatkan 5 orang prajurit TNI terluka, 2 orang anggota Polisi serta seorang kepala Distrik gugur, semuanya sedang melaksanakan tugas Negara mengantar dan mengawal Logistik Pilkada.

Saudara Pigey yang terhormat, saat itu entah sedang berada di Planet mana sehingga tidak pernah ada Komentar, karena kalau alasan tidak mendapatkan informasi tentang hal tersebut itu tentunya hal mustahil bila masih berpijak di Bumi namun saat Aparat Keamanan melaksanakan Penindakan Hukum demi tegaknya Kedaulatan dan Kewibawaan Negara, Sadura Natalius Pigey tiba-tiba muncul laksana Pahlawan di siang Bolong dan anehnya yang dibela adalah para pelaku Kriminal yang melakukan Terror terhadap Keamanan Rakyat dan Kedaulatan Negara serta melakukan tindakan yang tidak berprikemanusiaan. (OS)
Editor : Rahardja
Penanggung Jawab :Obor Panjaitan


Media Nasional Obor Keadilan menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : obor.leo@gmail.com dan atau via wa : 082114445256

KOMENTAR
TERKINI