Ket Gambar : Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise berdialog dengan petugas lapas dan dua napi perempuan di Lapas Klas II B Wamena, Minggu, 14 Agustus 2017. (Humas KPPPA)
Wamena | Media Nasional Obor Keadilan | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise menghadiri kegiatan Partisipasi publik untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) yang baru pertama kalinya dilaksanakan di Papua, Minggu (13/8). Di sana, dia bertemu ratusan anak dan guru, melakukan dialog dengan pemerintah daerah setempat dan sejumlah perwakilan masyarakat tentang permasalahan perempuan dan anak di wilayah Papua.
Di sela-sela itu, Menteri Yohana juga meninjau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas II B Wamena, Minggu (13/8). Dalam keterangan tertulisnya, Yohana mengatakan, ingin memastikan narapidana perempuan tidak mengalami kekerasan. Kepala lapas Wamena Klas IIB, Yusak Bin Sabetu, mengajak Menteri Yohana menelusuri sejumlah area di lapas yang dihuni oleh 99 narapidana, 2 diantaranya adalah perempuan.
Di lapas Wamena, Menteri Yohana memeriksa ruang tahanan perempuan dan bertemu dengan dua narapidana perempuan yang sedang menjalani masa tahanan dengan kasus pidana narkoba dan penganiayaan. Yohana berdialog dengan mereka dan memastikan tidak terjadi kekerasan pada narapidana perempuan.
“Kedatangan saya di sini untuk memastikan bahwa tidak ada tindak kekerasan yang terjadi pada penghuni lapas perempuan. Mereka juga harus tetap berhubungan dengan keluarganya karena mereka tetap memiliki hak. Para petugas dan kepala lapas tolong jaga hak-hak mereka agar tetap terpenuhi,” kata Yohana.
Kepada Yohana, narapidana perempuan menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan perhatian khusus berupa pemberdayaan yang cukup selama mereka menjalani masa tahanan. Ini sangat penting agar selama dalam masa tahanan mereka tetap berdaya, dan memiliki keterampilan yang bisa diaplikasikan di masyarakat untuk kelangsungan hidupnya ketika keluar dari penjara. Mereka mengharapkan peralatan sederhana sesuai keterampilan mereka, seperti mesin jahit dan peralatan memasak.
Menanggapi ini, Yohana berjanji akan memenuhi kebutuhan napi perempuan tersebut.
“Kami akan memprioritaskan lapas ini mengingat kondisi beberapa tempat yang belum maksimal ditambah lagi di Wamena tidak ada lapas khusus perempuan. Saya akan berkoordinasi langsung dengan menteri terkait untuk dapat membantu pengadaan sarana dan prasarana yang lebih layak di lapas ini,” kata Yohana.
Pada kesempatan itu pula, Yohana berdialog dengan bekas napi perempuan yang menghadapi kendala untuk pulang ke kampung halamannya di Cikarang, Jawa Barat. Eks napi ini memutuskan tetap tinggal di Lapas karena tidak memiliki saudara di Wamena, dan tidak punya biaya untuk pulang ke Cikarang. Prihatin mendengar kondisi itu, Menteri Yohana berjanji akan membantu memulangkan eks napi tersebut ke kampung halamannya.
Yohana mengungkapkan, Papua menjadi prioritas dan perhatian khusus program kerja Kementerian PPPA karena angka kekerasan pada anak dan perempuan di daerah ini masih tinggi.
Sumber: Suara Pembaruan
Editor : Obor Panjaitan
