HEADLINE

QUO VADIS PENDIDIKAN DI INDONESIA ?! - - Bahaya Virus Komersialisasi-

Redaksi/Jumat, 09 Februari 2018/22:17 WIB

Sebarkan:
  Dr. Kun Nurachadijat.


 MEDIA NASIONAL OBOR KEADILAN 

Oleh :
Pakar Pendidikan :  Dr. Kun Nurachadijat.

Ditengah gaduhnya perpolitikan dan keprihatinan mendalam bencana di negri kita, muncullah masalah baru. Penganiayaan guru oleh murid yang berujung fatal.

Tidak terelakkan lagi, sang murid sudah pasti dalam keadaan terpojok, bertubi tubi dipersalahkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Itu salah satu fenomena yang memiriskan di dunia pendidikan. Lagi lagi masalah substansi yang selama ini Indonesia miliki, satu persatu mengemuka setelah kebobrokan di bidang politik.

Pendidikan, banyak yang mengidentikan dengan pengajaran. Padahal bila meminjam definisinya dari bahasa Inggris, pendidikan dari kata _education_ berasal dari kata kerja _to educate_, dan itu sendiri sebenarnya serapan dari bahasa latin yakni _educere_ yang berarti menarik keluar. Sedangkan pengajaran dari kata ajar, yang bahasa Inggrisnya _to teach._

Dari definsi dan asal katanya saja itu, pendidikan dan pengajaran ini memiliki perbedaan yang lebar. Dalam bahasa akademisnya, _educere_ yakni menarik keluar. Apa yang ditarik keluar? Ternyata yang ditarik keluarnya itu seharusnya talenta atau bakat. Ini lebih ke arah skill atau keahlian. Sedangkan pengajaran, ia lebih ke arah peningkatan pengetahuan atau _knowledge._

Namun ada juga pandangan dari para ahli pendidikan, bahwa _educere_ itu tidak hanya membetot bakat, tetapi juga merangsang sikap positif, kreatif dan kepribadian mulia yakni lazim dikenal dengan _attitude._

Seorang pendidik, dapat merangsang pola pikir maju dan sarat dengan keinginan kuat untuk bersama sang pendidiknya mewujudkan tujuan pendidikan. Sehingga kombinasi yang padu antara pengetahuan, keahlian dan sikap yang baik bersenyawa menjadi kompetensi yang unggul. Dalam view manajemen pendidikan, sang pendidik seperti itu adalah pendidik yang memiliki jiwa kepemimpinan transformatif.

Pakar Ilmu Kepemimpinan, B.M Bass & B.J Avolio menemukan empat (4) komponen perilaku dari Kepemimpinan Transformasional, yakni
1. Berkharisma. 2. Memotivasi yang menginspirasi. 3. Merangsang timbulnya cara berfikir intelektual. 4. Pertimbangan individual. Yang singkatnya oleh James Macgregor Burns disarikan, kepemimpinan transformasional itu berujung pada pemimpin dan pengikutnya saling menguatkan ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi.

Dioperasionalkan ke dunia pendidikan, dalam konteks fenomena betapa brutalnya anak didik terhadap gurunya, sebut saja kasus teraniayanya Pak Guru Budi hingga fatal. Berdasarkan uraian di atas tadi, bobot timbulnya masalah tersebut cenderung berada pada kemampuan sang gurunya itu sendiri (terlepas saya dan beliau almarhum sempat berlatar belakang satu organisasi kemahasiswaan yang sama) dalam mendidik.

Seorang guru seharusnya memiliki kharisma sehingga membuat peserta ajarnya segan terhadapnya. Ketika sudah ada ikatan yang dibalut rasa segan itu, maka seorang pendidik akan relatif sangat mudah untuk mengarahkan sikap mental ke arah _attitude_ yang baik. Disamping secara pengetahuan & keahlian sang murid tertingkatkan.

Disimpulkan, di dunia pendidikan, terutama di Indonesia ini faktor kualitas kepemimpinan sang pendidik harus lebih diarahkan oleh para pemangku kebijakan, ke arah Kepemimpinan Transformasional. Niscaya tawuran, _attitude_ buruk terhadap sesama juga _attitude_ buruk terhadap gurunya akan berkurang jauh.

Masalahnya dalam mentransfer kepemimpinan transformasional ke para pendidik pun, sikap kepemimpinan itu harus dimiliki terlebih dahulu oleh instansi berkewenangan yang mendidik para pendidik tersebut. Pendidik para guru, harus memiliki sikap GURU yakni di GUgu dan ditiRU sebelum dirinya mengGURUkan para guru sehingga tersemburat kharisma dari sang pendidik guru tersebut.

Cilakanya, kini sikap GURU itu kian memudar seiring virus komersil menggerogoti Kepemimpinan Transformasional, sehingga Transformasional merosot jauh derajatnya menjadi Transaksional. Virus inilah yang memperburam suramnya wajah pendidikan di Indonesia. Langkanya sikap yang patut diteladani, itu masalah terbesar didunia pendidikan disamping metode pendidikan, yang menurut Paulo Freire, masih sistem dikte. Dan malangnya,  kelangkaan Keteladanan pun menjangkiti pada bidang lainnya di Indonesia secara umum.


Dr. Kun Nurachadijat, ekonom Iluni UI. Praktisi Pengembangan SDM. Doktor Manajemen Pendidikan Pasca Sarjana Universitas Pakuan.

Kabid Ideopol FKDM Kota Bogor. Waketum Bid Organisasi Dewan Kesenian & Kebudayaan Kota Bogor. Kalitbang Pengurus Pusat Purna Paskibraka Indonesia. Kabid Diklat KBFKPPI X.05. Trainer Nasional NDP HMI. Sekjen DPP Parfi.

VISI MERAH PUTIH Founder

Oleh :
Pakar Pendidikan :  Dr. Kun Nurachadijat.

Media Nasional Obor Keadilan menerima undangan Press Conference, permintaan wawancara eksklusif (atau liputan khusus), dan pengiriman Press Release, melalui email : obor.leo@gmail.com dan atau via wa : 082114445256

KOMENTAR
TERKINI